ORINEWS.id – Nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada di bawah tekanan pada perdagangan pekan depan. Mata uang Garuda bahkan berpotensi melemah hingga menyentuh kisaran Rp18.250 sampai Rp18.300 per dolar Amerika Serikat (AS) seiring sejumlah data ekonomi domestik yang akan dirilis.
Meski demikian, rupiah mengakhiri perdagangan akhir pekan dengan penguatan. Di pasar spot pada Jumat (31/7/2026), rupiah menguat 0,49 persen secara harian ke level Rp18.022 per dolar AS. Namun, secara mingguan rupiah masih melemah 0,32 persen dibandingkan posisi Rp17.963 per dolar AS pada Jumat (24/7/2026).
Sementara itu, berdasarkan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah menguat 0,11 persen menjadi Rp18.058 per dolar AS. Secara sepekan, nilai tukar tersebut tetap mencatat pelemahan 0,47 persen dari posisi Rp17.973 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan akan dipengaruhi sejumlah indikator ekonomi yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia (BI).
Salah satu data yang menjadi perhatian pasar adalah neraca perdagangan Indonesia. Ibrahim memperkirakan neraca perdagangan Juni 2026 berpotensi mencatat defisit sehingga dapat memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah.
“Pasar akan melihat banyak data yang akan dirilis di Indonesia, terutama neraca perdagangan yang kemungkinan besar pada Juni akan mengalami defisit. Hal ini juga akan mempengaruhi pergerakan rupiah ke depan,” ujar Ibrahim, Minggu (2/8/2026), dikutip dari kompas.com.
Selain itu, inflasi Indonesia diperkirakan melandai setelah pemerintah melakukan intervensi terhadap harga sejumlah komoditas. Ibrahim memproyeksikan inflasi berada di bawah 3,34 persen.
Perhatian investor juga tertuju pada data Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia. Menurut Ibrahim, PMI diperkirakan masih berada di bawah level 50 atau tetap berada di zona kontraksi, meski lebih baik dibandingkan capaian sebelumnya di level 46,9.
Ia mengatakan kondisi tersebut menunjukkan aktivitas industri manufaktur nasional belum sepenuhnya pulih dan masih berdampak pada pasar tenaga kerja.
“PMI manufaktur kemungkinan masih terkontraksi di bawah 50. Walaupun pada Juli diperkirakan berada di atas 46,9, tetapi masih menunjukkan kontraksi. Ini mengindikasikan kondisi tenaga kerja masih melemah dan pemutusan hubungan kerja (PHK) masih terjadi di berbagai sektor,” katanya.
Di sisi lain, cadangan devisa Indonesia diperkirakan turut mengalami penurunan dibandingkan posisi Juni 2026 yang mencapai 145,6 miliar dolar AS. Penurunan tersebut diperkirakan membuat kemampuan pembiayaan impor dan pembayaran utang luar negeri berada di kisaran 4,9 bulan.
Menurut Ibrahim, angka itu masih berada di bawah standar umum negara dengan peringkat utang BBB yang berkisar lima bulan cadangan devisa.
Ia juga memperkirakan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) kembali melemah pada Juli 2026. Tren penurunan IKK, kata dia, telah berlangsung sejak awal tahun, dari level 129 pada Januari menjadi 117,8 pada Juni 2026, dan diperkirakan turun lagi menjadi 116,6 pada Juli.
Ibrahim menilai seluruh data ekonomi yang dirilis BPS dan BI pada pekan depan akan menjadi penentu arah pergerakan rupiah.
“Data-data yang akan dirilis oleh BPS maupun Bank Indonesia pada pekan depan akan sangat berpengaruh terhadap pergerakan mata uang rupiah,” ujarnya.[]















































































