TERBARU

Ekonomi

DPRA Dorong Hilirisasi Sawit, Nilai Tambah Komoditas Dinilai Masih Mengalir ke Luar Aceh

ORINEWS.id — Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) menilai Aceh masih kehilangan peluang ekonomi besar dari sektor perkebunan kelapa sawit akibat terbatasnya industri pengolahan di dalam daerah. Sebagian besar minyak mentah kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) yang diproduksi di wilayah Barat Selatan Aceh (Barsela) masih dikirim ke luar daerah untuk diproses lebih lanjut.

Sorotan tersebut disampaikan saat Komisi III DPRA melakukan kunjungan kerja ke sejumlah pabrik kelapa sawit (PKS) di kawasan Barsela, Jumat (19/6/2026). Dalam kunjungan itu, dewan menilai pengembangan industri hilir sawit perlu menjadi perhatian serius guna meningkatkan nilai tambah komoditas yang selama ini menjadi salah satu penopang ekonomi daerah.

Anggota Komisi III DPRA Hasballah mengatakan sekitar 5.000 kiloliter CPO dari kawasan Barsela dikirim ke Medan setiap hari untuk diolah menjadi berbagai produk turunan. Kondisi tersebut menyebabkan manfaat ekonomi yang lebih besar justru berkembang di luar Aceh.

“Setiap hari ada sekitar 5.000 KL CPO yang diangkut ke Medan untuk diolah. Ini menunjukkan bahwa nilai ekonomi terbesar dari sektor sawit masih dinikmati daerah lain,” kata Hasballah.

Menurut dia, luas perkebunan sawit yang dimiliki Aceh, khususnya di wilayah Barsela, seharusnya dapat menjadi modal penting untuk membangun industri pengolahan yang terintegrasi. Namun hingga kini, aktivitas ekonomi yang berkembang masih didominasi pada tahap produksi bahan baku.

Hasballah menilai ketergantungan terhadap fasilitas pengolahan di luar daerah membuat Aceh kehilangan peluang memperoleh nilai tambah yang lebih besar. Padahal, industri hilir sawit mampu menghasilkan berbagai produk bernilai tinggi yang dapat memperluas investasi dan menciptakan lapangan kerja baru.

Karena itu, DPRA meminta Pemerintah Aceh mulai memperkuat ekosistem industri sawit melalui pembangunan fasilitas pengolahan, dukungan infrastruktur distribusi, serta kebijakan yang mendorong investasi di sektor hilir.

Menurutnya, pengembangan industri pengolahan tidak hanya berdampak pada peningkatan pendapatan daerah, tetapi juga memperkuat perekonomian masyarakat di sentra-sentra perkebunan sawit, terutama di wilayah Barsela.

“Kita memiliki bahan baku yang melimpah. Yang perlu dibangun sekarang adalah industrinya, sehingga manfaat ekonomi sawit tidak terus keluar dari Aceh,” ujarnya.

DPRA berharap agenda hilirisasi sawit dapat masuk dalam prioritas pembangunan daerah. Langkah tersebut dinilai penting untuk meningkatkan daya saing ekonomi Aceh sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap daerah lain dalam rantai industri perkebunan kelapa sawit. []

Apa reaksi Anda?

Komentari!

Artikel Terkait

Load More Posts Loading...No more posts.