TERBARU

InternasionalNews

Pakar Militer Akui Iran Terbukti Mahir dalam Adaptasi Perang

ORINEWS.id – Peneliti senior di Middle East Institute, Ross Harrison, menilai konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran menunjukkan kemampuan Teheran dalam beradaptasi menghadapi tekanan militer.

Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Harrison menyebut Iran telah membuktikan diri “mahir dalam adaptasi” terhadap dinamika geopolitik dan militer selama dua dekade terakhir.

“Kita melihat mereka beradaptasi dengan situasi kekuatan asimetris di Timur Tengah selama 20 tahun terakhir melalui ‘poros resistance’ dan penggunaan milisi. Sekarang mereka menghadapi tantangan yang lebih langsung dari AS dan Israel, dan sedang mencari cara memanfaatkan kekuatan ekonomi,” kata Harrison.

Ia mencontohkan langkah Iran yang mengganggu jalur strategis Selat Hormuz serta serangan terhadap negara-negara Teluk Arab yang berdampak pada tekanan ekonomi di kawasan.

Harrison juga memperkirakan Iran tengah mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan invasi darat. Menurut dia, tanpa pengerahan pasukan besar oleh pihak lawan, Iran berpotensi memiliki keuntungan karena bertempur di wilayah sendiri.

Sementara itu, analis dari Center for International Policy, Negar Mortazavi, menilai pernyataan agresif Presiden Amerika Serikat Donald Trump justru menyulitkan upaya menuju gencatan senjata.

“Saya pikir Donald Trump tertarik pada kesepakatan dengan Iran. Namun jenis kesepakatan yang diinginkannya adalah penyerahan total atau kapitulasi,” ujar Mortazavi.

Ia menambahkan bahwa Iran tidak menawarkan hal tersebut, melainkan opsi kesepakatan yang dinilai masih dapat diselesaikan melalui jalur diplomatik. Hal itu, menurutnya, juga disampaikan oleh mediator dari Oman serta pejabat tinggi Inggris yang terlibat dalam proses tersebut.

Mortazavi menilai pendekatan Trump menunjukkan kurangnya perencanaan dan strategi ke depan. Ia juga memperingatkan bahwa pengerahan pasukan darat ke Iran berpotensi memperluas konflik menjadi perang berkepanjangan di Timur Tengah, bahkan lebih buruk dibandingkan perang di Irak dan Afghanistan. []

Apa reaksi Anda?

Komentari!

Artikel Terkait

Load More Posts Loading...No more posts.