ORINEWS.id – Angkatan Bersenjata Yaman kembali melancarkan operasi militer yang menyasar wilayah “Israel”, sebagai dukungan terhadap warga Palestina di Gaza dan sebagai respons atas tewasnya Perdana Menteri Yaman serta beberapa menteri dalam serangan udara di Sanaa oleh “Israel”.
Mengutip Saluran 14 Israel, Senin (8/9/2025), sebuah ledakan terdengar di dalam Bandara Ramon akibat serangan pesawat tak berawak (UAV) Yaman. Para saksi melaporkan bahwa suara ledakan terdengar hingga ke seluruh area sekitar bandara. Pihak berwenang Israel kemudian menutup wilayah udara di sekitar bandara dan mengaktifkan sirene peringatan di kawasan sekitar.
Media Israel juga melaporkan bahwa sirene berbunyi di seluruh wilayah selatan “Israel” menyusul serangan UAV lain oleh pasukan Yaman. Sirene tambahan bahkan diaktifkan di wilayah Negev selatan karena adanya kekhawatiran infiltrasi UAV di dekat fasilitas Dimona dan kawasan industri Rotem. Salah satu platform media Israel menyebut bahwa pesawat tak berawak ini menargetkan pusat penelitian nuklir Dimona, namun berhasil dicegat.
Menurut laporan, tiga UAV Yaman diluncurkan dari arah berbeda dan berhasil menembus wilayah udara “Israel”. Pada 7 September, Angkatan Bersenjata Yaman mengumumkan bahwa unit UAV mereka melakukan serangan besar, termasuk menyerang Bandara Ramon di Negev secara langsung. Serangan ini menyebabkan lalu lintas udara terganggu, selain serangan lanjutan di beberapa lokasi seperti Umm al-Rashrash (Eilat), Askalan, Isdud, dan Yafa.
Pihak militer Yaman memperingatkan semua perusahaan penerbangan bahwa bandara di wilayah Palestina yang diduduki tidak aman dan akan terus menjadi target, menegaskan bahwa mereka tidak bertanggung jawab atas konsekuensi yang mungkin timbul.
Harian Israel, Maariv, menilai serangan UAV yang menghantam ruang kedatangan Bandara Ramon memiliki dampak simbolis dan visual yang signifikan, bukan dari kerusakan fisik, tetapi dari beban moral dan simbolis terhadap lalu lintas penerbangan. Laporan tersebut juga menyebut bahwa kesalahan pelaporan media internasional terkait serangan terhadap bandara lain, seperti Ben Gurion, dapat memengaruhi keputusan maskapai asing, termasuk yang baru memulai kembali penerbangan ke wilayah “Israel”.
Sebelumnya, pada Mei lalu, rudal Yaman berhasil menghantam Bandara Ben Gurion, sehingga otoritas Israel harus meyakinkan kembali eksekutif maskapai asing agar melanjutkan penerbangan ke wilayah yang diduduki. []















































































