TERBARU

Aceh

21 Tahun Damai Aceh, Ketua DPRA Ajak Masyarakat Terus Merawat Perdamaian

ORINEWS.id, BANDA ACEH — Genap 21 tahun perdamaian Aceh berjalan sejak Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki diteken pada 15 Agustus 2005. Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) Zulfadhli mengajak masyarakat tidak berhenti pada rasa syukur, tetapi terus merawat perdamaian yang telah dicapai.

Ditemui di sela persiapan peringatan Hari Damai Aceh, Kamis (14/8/2026), Zulfadhli mengatakan usia 21 tahun perdamaian Aceh seharusnya dimaknai lebih dari sekadar penanda waktu. Menurut dia, momentum tersebut menjadi pengingat bahwa perdamaian yang dinikmati masyarakat saat ini lahir dari proses panjang dan tidak mudah.

“Perdamaian Aceh adalah sesuatu yang harus kita syukuri dan jaga bersama. Ini merupakan hasil perjuangan panjang yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya,” kata Zulfadhli.

Ia menuturkan, situasi kondusif yang bertahan lebih dari dua dekade telah memungkinkan pemerintah dan masyarakat bekerja tanpa harus memikirkan ancaman konflik. Menurut Zulfadhli, kondisi tersebut menjadi fondasi bagi Aceh untuk terus membangun dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Zulfadhli menambahkan, komitmen menjaga perdamaian semestinya tidak berhenti pada aspek keamanan. Ia menilai seluruh hasil dan kesepakatan yang lahir dari proses perdamaian juga harus terus dikawal agar tidak kehilangan makna.

Salah satu perhatian utama DPRA saat ini, kata dia, adalah mendorong penguatan kekhususan Aceh melalui jalur legislasi, termasuk turut mengawal pembahasan revisi Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA) yang sedang bergulir di tingkat pusat.

“Perdamaian tidak berhenti pada tidak adanya konflik. Kita juga harus menjaga hasil-hasil perdamaian dan memastikan kekhususan Aceh terus diperkuat,” ujarnya.

Menurut Zulfadhli, upaya memperkuat regulasi tersebut tidak terlepas dari komitmen menjaga kewenangan khusus Aceh agar tetap relevan dan sejalan dengan semangat awal perdamaian yang disepakati dua dekade lalu.

Ia berharap peringatan tahun ini menjadi pengingat bagi semua pihak bahwa merawat perdamaian bukan tugas pemerintah semata, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh masyarakat Aceh.

“Dengan kebersamaan itu, saya yakin Aceh bisa melangkah lebih tenang dan percaya diri menghadapi tantangan ke depan,” tambahnya.

Rangkaian peringatan 21 tahun Damai Aceh berlangsung di Gedung Balai Meuseuraya Aceh, Banda Aceh, sebagai bagian dari ikhtiar menghadirkan nilai-nilai perdamaian dalam bentuk kerja nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat.***

Apa reaksi Anda?

Komentari!

Artikel Terkait

Load More Posts Loading...No more posts.