ORINEWS.id – Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim berhasil menghancurkan sistem peluncur rudal milik Amerika Serikat (AS) yang ditempatkan di Kuwait dalam sebuah operasi drone. Namun, klaim tersebut langsung dibantah oleh Komando Pusat AS (CENTCOM), yang menyatakan tidak ada personel militernya yang menjadi korban.
Pernyataan IRGC disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Klaim itu dimuat kantor berita Fars News Agency dan dikutip TRT World, Senin (13/7/2026).
IRGC menyebut serangan dilakukan melalui “operasi drone presisi” yang menargetkan High Mobility Artillery Rocket System (HIMARS), sistem peluncur roket mobilitas tinggi buatan AS yang ditempatkan di Kuwait.
Dalam pernyataannya, IRGC mengklaim sistem peluncur rudal beserta pod rudal pendamping yang disebut siap digunakan untuk menyerang Iran berhasil dihancurkan.
Selain itu, IRGC mengutip sejumlah laporan tidak resmi yang menyebut tiga tentara Amerika Serikat tewas dan beberapa lainnya mengalami luka-luka dalam serangan tersebut.
Menurut IRGC, peluncur HIMARS sebelumnya digunakan untuk meluncurkan rudal jarak pendek ke sejumlah wilayah di pesisir selatan Iran dalam rangkaian serangan selama konflik Iran melawan Amerika Serikat dan Israel yang berlangsung sejak Februari lalu.
Namun, klaim tersebut dibantah oleh CENTCOM. Komando militer AS yang membawahi operasi di Timur Tengah itu menegaskan tidak ada personel militer Amerika yang menjadi korban dalam insiden tersebut.
“Klaim propaganda Iran hari ini menyebut tiga personel Amerika tewas di Kuwait akibat serangan Iran,” demikian pernyataan CENTCOM.
CENTCOM menegaskan informasi tersebut tidak benar dan menyatakan tidak ada personel AS yang terluka akibat serangan yang diklaim Iran.
Hingga kini, belum ada bukti independen yang dapat memverifikasi klaim IRGC mengenai kerusakan sistem HIMARS maupun laporan korban jiwa di pihak militer Amerika Serikat.[]


































































