ORINEWS.id — Pemerintah Iran menuduh Amerika Serikat menggunakan sistem senjata baru dalam serangan terhadap permukiman sipil pada hari pertama operasi gabungan bersama Israel, 28 Februari 2026 lalu.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei menyampaikan tuduhan tersebut dengan mengungkap rincian serangan rudal AS terhadap sebuah gedung olahraga di Kota Lamerd, Provinsi Fars. Dalam serangan itu, sebanyak 24 orang dilaporkan tewas, termasuk seorang anak perempuan berusia dua tahun.
Dalam unggahan di media sosial X, Baghaei menyebut serangan dilakukan menggunakan rudal yang meledak di udara sebelum mencapai sasaran.
“(Melepaskan) peluru tungsten berkecepatan tinggi menghantam area tersebut ke segala arah dengan kekuatan yang menghancurkan,” kata Baghaei.
Ia menegaskan dampak yang ditimbulkan dari serangan tersebut bukan merupakan kesalahan teknis, melainkan tindakan yang telah diperhitungkan sebelumnya.
Menurut Baghaei, serangan terhadap kawasan sipil itu merupakan bentuk nyata kejahatan perang. Ia juga menyampaikan tuduhan tersebut setelah menerima penjelasan rinci dalam pertemuannya dengan anggota parlemen Iran perwakilan Kota Mehr dan Lamerd, Mousa Mousavi.
Dalam penjelasan itu disebutkan rudal-rudal yang digunakan meledak di udara dan melepaskan sekitar 180.000 butir peluru tungsten berkecepatan tinggi yang menyebar ke segala arah.
“Tidak ada lagi keraguan bahwa AS sengaja menargetkan lingkungan perumahan dan gedung olahraga sipil di Lamerd. Ini bukan kesalahan, ini keputusan yang diperhitungkan untuk menguji daya hancur sistem senjata baru terhadap warga sipil Iran,” ujar Baghaei dalam unggahannya di X.
Ia menegaskan pihak yang memerintahkan maupun melaksanakan serangan tersebut harus dimintai pertanggungjawaban di hadapan pengadilan yang berwenang.
Hingga kini belum ada tanggapan resmi dari pemerintah AS terkait tuduhan Iran tersebut. []


































































