TERBARU

Religi

Khutbah Idul Adha 1447 H: Kurban dan Indahnya Berbagi untuk Sesama

ORINEWS.id – Khutbah Idul Adha ini mengajak para jamaah untuk meneladani semangat empati dan kepedulian sosial melalui ibadah kurban. Hal ini berkaitan dengan makna kurban sebagai sarana berbagi makanan yang layak kepada sesama, khususnya golongan yang membutuhkan.

Teks khutbah berikut berjudul “Khutbah Idul Adha 1447 H: Kurban dan Indahnya Berbagi untuk Sesama”. Untuk mencetak naskah khutbah Idul Adha ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini pada tampilan desktop. Semoga bermanfaat. (Redaksi)

Khutbah I

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي شَرَعَ لِعِبَادِهِ ٱلْقُرْبَانَ، وَجَعَلَهُ شِعَارًا لِلتَّقْوَىٰ وَٱلْإِحْسَانِ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ ٱلظَّاهِرَةِ وَٱلْبَاطِنَةِ، وَنَشْكُرُهُ عَلَىٰ مَا أَوْلَانَا مِنَ ٱلْخَيْرِ وَٱلْإِيمَانِ. وَٱلصَّلَاةُ وَٱلسَّلَامُ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، سَيِّدِ أَهْلِ ٱلْإِيمَانِ، وَإِمَامِ أَهْلِ ٱلْإِحْسَانِ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ مَا تَعَاقَبَ ٱلْجَدِيدَانِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا ٱلْمُؤْمِنُونَ، ٱتَّقُوا ٱللَّهَ حَقَّ ٱلتَّقْوَىٰ، وَعَظِّمُوا شَعَائِرَ ٱللَّهِ فِي هَٰذِهِ ٱلْأَيَّامِ ٱلْمُبَارَكَةِ، فَإِنَّ فِيهَا تَكْفِيرَ ٱلسَّيِّئَاتِ، وَرَفْعَ ٱلدَّرَجَاتِ، وَفَوْزَ أَهْلِ ٱلطَّاعَاتِ.

Jamaah kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah,

Segala puji pada hakikatnya milik Allah. Karenanya, sudah sepatutnya kita kembalikan semuanya kepada-Nya. Shalawat dan salam senantiasa kita haturkan kepada Nabi Muhammad SAW selaku panutan kita, beserta keluarga dan para sahabatnya.

Selanjutnya, khatib mengajak kita semua untuk terus meningkatkan kualitas ketakwaan, terlebih pada momentum Hari Raya Idul Adha seperti saat ini. Dalam agama kita, Idul Adha merupakan salah satu hari penting untuk meningkatkan ibadah personal sekaligus ibadah sosial.

Hari Raya Idul Adha bukan sekadar perayaan tahunan, bukan pula hanya momentum penyembelihan hewan kurban semata. Idul Adha adalah momentum untuk merefleksikan diri tentang pengorbanan, keikhlasan, ketundukan kepada Allah, dan yang tidak kalah penting, membangkitkan empati sosial terhadap kaum dhuafa serta masyarakat miskin.

Jamaah kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah,

Di tengah dunia yang semakin individualis, Islam menghadirkan ibadah kurban sebagai sarana agar manusia tidak hidup hanya untuk dirinya sendiri. Melalui ibadah kurban, Islam mengingatkan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Karena itu, kita harus melihat ke kanan dan kiri, sebab masih banyak orang yang sepanjang tahun jarang menikmati makanan yang layak.

Ada keluarga yang hidup dalam kekurangan, anak-anak yatim yang terbatas kebutuhannya, serta masyarakat kecil yang sering kali hanya menjadi penonton kemewahan kehidupan orang lain. Apalagi di era media sosial seperti sekarang, gaya hidup mewah semakin mudah dikonsumsi oleh siapa saja, terlepas dari tujuan flexing ataupun sekadar unggahan biasa.

Maka, syariat kurban hadir untuk menghadirkan kebahagiaan bagi mereka agar pada hari raya ini seluruh lapisan masyarakat dapat merasakan nikmat dan kegembiraan bersama. Dengan mengonsumsi daging kurban, diharapkan masyarakat kecil pun turut menikmati dan meramaikan Hari Raya Idul Adha.

Karena itu, Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Hajj ayat 28:

فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ

Artinya, “Makanlah sebagian darinya dan berilah makan orang yang sengsara lagi fakir.”

Ayat ini menunjukkan bahwa kurban bukan hanya ritual personal, tetapi juga memiliki dimensi sosial yang sangat kuat. Daging kurban tidak dimaksudkan berhenti di meja orang kaya, melainkan harus sampai kepada orang-orang yang membutuhkan. Bahkan dalam banyak komunitas Muslim, momentum Idul Adha menjadi hari langka ketika kaum miskin dapat menikmati makanan yang mungkin sulit mereka rasakan pada hari-hari biasa.

Syekh Ibnu ‘Asyur dalam kitab tafsir At-Tahrir wat Tanwir juz 17 halaman 246 mengatakan bahwa ayat ini menunjukkan cara bersyukur orang-orang mampu atas rezeki yang dilimpahkan kepada mereka, yaitu dengan beribadah kurban dan memberikan dagingnya kepada golongan yang membutuhkan.

Karena itu, lanjut Ibnu ‘Asyur, Allah melanjutkan perintah-Nya untuk berbagi rezeki kepada kaum fakir miskin guna memenuhi kebutuhan mereka, terutama dalam hal makanan sebagai kebutuhan pokok.

Jamaah kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah,

Sejatinya, kurban bukan semata-mata soal darah dan daging. Bahkan Allah tidak membutuhkan itu semua. Allah hanya menghendaki ketakwaan dan kepedulian yang hidup dalam hati manusia. Kita perlu mengingat firman-Nya:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ

Artinya, “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS Al-Hajj: 37)

Artinya, berkurban bukan berarti hewannya untuk Allah. Namun, Allah sedang menguji kita apakah kita yang diberi rezeki lebih mau berbagi kepada sesama. Apakah kita bersedia mengorbankan harta yang dicari dengan jerih payah untuk membantu kaum dhuafa agar turut bersuka cita menyambut Hari Raya Idul Adha.

Sebagaimana diketahui, syariat kurban diadopsi dari kisah Nabi Ibrahim AS yang diperintahkan menyembelih putranya, Nabi Ismail AS. Ketulusan dan kepatuhannya membuat Nabi Ibrahim menjalankan perintah tersebut dengan sepenuh hati.

Namun, ketulusan, kepatuhan, dan pengorbanan seperti itu seyogianya tidak berhenti pada kisah belaka. Ketika Islam menetapkan syariat kurban dan menyuruh umatnya membagikan dagingnya, kita harus sadar bahwa Islam sedang mengajarkan kepedulian kepada sesama.

Sebab, barangkali tidak sedikit dari kita yang rajin beribadah secara personal, tetapi kurang memiliki kepekaan sosial. Kita lebih suka menghabiskan harta untuk kesenangan pribadi, tetapi berat hati ketika diminta membantu fakir miskin dan orang-orang yang kesulitan.

Jamaah kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah,

Nabi Muhammad SAW telah mengingatkan umatnya agar memiliki rasa empati kepada orang yang membutuhkan. Dalam riwayat Imam Al-Bazzar disebutkan:

مَا آمَنَ بِي مَنْ بَاتَ شَبْعَانَ وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ وَهُوَ يَعْلَمُ بِهِ

Artinya, “Tidak beriman kepadaku orang yang tidur dalam keadaan kenyang sementara tetangga di sampingnya kelaparan sedangkan dia mengetahuinya.”

Tentu saja, tetangga di sini bukan berarti harus tepat di samping rumah kita. Tetangga dalam hadis tersebut bisa bermakna orang-orang yang berada di sekitar kita, khususnya yang saling mengenal satu sama lain. Maka, bila kita membiarkan mereka kelaparan, berarti keimanan kita masih jauh dari kata sempurna.

Imam Sufyan Al-Tsauri, salah satu ulama hadis dan fikih terkemuka, sebagaimana dikutip dalam kitab Hilyatul Auliya’ juz 6 halaman 386, menyebutkan:

إِنَّمَا سُمِّيَ الْمَالُ لِأَنَّهُ يَمِيلُ الْقُلُوبَ

Artinya, “Harta dinamakan māl karena ia dapat memalingkan hati.”

Perkataan ini sangat dalam maknanya. Harta memang memiliki daya tarik luar biasa terhadap hati manusia. Karena itu, orang yang mampu berbagi hartanya dengan ikhlas menunjukkan bahwa cintanya kepada Allah jauh lebih besar daripada cintanya kepada harta dan dunia.

Jamaah kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah,

Melalui topik ini, pada momentum Idul Adha kali ini, khatib mengajak kita semua untuk mengubah cara pandang terhadap ibadah kurban yang dilakukan. Mari meniatkan ibadah ini selain untuk menunaikan syariat Allah, juga sebagai ajang membantu sekaligus membahagiakan kaum miskin dan dhuafa.

Masih banyak masyarakat yang hidup dalam kesulitan ekonomi. Banyak buruh kecil yang penghasilannya tidak mencukupi, pedagang kecil yang terhimpit kebutuhan hidup, anak yatim yang kekurangan biaya pendidikan, hingga orang tua renta yang hidup dalam kesepian dan keterbatasan. Mereka semua membutuhkan perhatian kita, bukan hanya pada hari raya, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, Idul Adha seharusnya menjadi momentum membangun solidaritas sosial. Jika kita memiliki kelapangan rezeki, bantulah mereka. Jika memiliki makanan berlebih, bagikanlah. Jika memiliki kekuatan dan pengaruh, gunakanlah untuk melindungi masyarakat kecil.

Inilah hakikat empati dalam Islam, yakni menghadirkan hati untuk ikut merasakan penderitaan orang lain dan berusaha menghadirkan kebaikan bagi mereka agar senyum kebahagiaan selalu merekah di wajah mereka.

Semoga Idul Adha tahun ini tidak hanya menjadikan kita orang yang menyembelih hewan kurban, tetapi juga pribadi yang mampu menyembelih egoisme, keserakahan, dan kecintaan berlebihan terhadap dunia. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang dermawan, peduli terhadap kaum miskin, dan ringan tangan dalam membantu sesama.

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ

Khutbah II

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

اَللهُ أَكْبَرُ مَا ذَكَرَهُ الذَّاكِرُوْنَ، اَللهُ أَكْبَرُ مَا حَمِدَهُ الْحَامِدُوْنَ، اَللهُ أَكْبَرُ مَا تَقَلَّبَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ، اَللهُ أَكْبَرُ فِي كُلِّ حَالٍ وَفِي سَائِرِ الظُّرُوْفِ وَالْأَحْوَالِ، اَللهُ أَكْبَرُ مَا أَقْبَلَ التَّائِبُوْنَ إِلَى رَبِّهِمْ مُسْتَغْفِرِيْنَ، اَللهُ أَكْبَرُ مَا تَجَلَّى اللهُ عَلَى عِبَادِهِ فِي هَذَا الشَّهْرِ الْمُبَارَكِ وَفِي سَائِرِ الشُّهُوْرِ وَالْأَيَّامِ بِالرَّحْمَةِ وَالْغُفْرَانِ.

الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِإِفْشَاءِ السَّلَامِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ الْمَبْعُوْثِ إِلَى سَائِرِ الْأُمَمِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الْمُتَمَسِّكِيْنَ بِدِيْنِ الْإِسْلَامِ، أَمَّا بَعْدُ.

فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ… [lanjutan doa dan khutbah tetap].

M. Syarofuddin Firdaus, Dosen Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus-Sunnah Ciputat. [source:nuonline]

Apa reaksi Anda?

Komentari!

Artikel Terkait

Load More Posts Loading...No more posts.