TERBARU

Religi

Jangan Salah Pilih, Ini Ciri Hewan Kurban yang Sehat dan Layak Disembelih

ORINEWS.id – Kegiatan penyembelihan hewan kurban menjadi salah satu momen yang paling dinantikan masyarakat dalam menyambut Hari Raya Idul Adha. Namun, di balik antusiasme tersebut, proses penanganan dan penyembelihan hewan kurban di lapangan masih memerlukan perhatian lebih agar sejalan dengan standar kesejahteraan hewan.

Menanggapi hal itu, Pakar Universitas Airlangga (UNAIR), Dr. drh. Nusdianto Triakoso, M.P., menegaskan pentingnya menjaga kondisi hewan kurban agar tetap prima dan terhindar dari stres sebelum proses penyembelihan berlangsung.

Menurut Dr. Nus, ada tiga fase krusial yang wajib diperhatikan masyarakat, yakni sebelum penyembelihan, saat penyembelihan, dan setelah penyembelihan. Tahapan sebelum dan saat penyembelihan memegang peranan penting dalam menentukan kualitas daging yang nantinya dikonsumsi.

“Lebih baik hewan kurban dikirim sehari sebelum penyembelihan berlangsung dan tempat penampungan sementaranya juga perlu diperhatikan. Saat menyembelih juga ada standar dan triknya agar hewan kurban tidak stres nantinya,” ungkap Dr. Nus, dikutip dari laman UNAIR.

Cara Mudah Memilih Hewan Kurban yang Sehat

Langkah awal untuk mendapatkan daging berkualitas dimulai dari ketepatan memilih hewan kurban. Dr. Nus membagikan beberapa tanda umum yang mudah dikenali masyarakat awam untuk memastikan hewan dalam kondisi sehat.

Pertama, dari tingkah laku. Hewan yang sehat biasanya tampak lincah dan aktif merespons lingkungan sekitar.

Kedua, cara bernapas. Pernapasan hewan harus terlihat normal dan teratur. Jika hewan tampak sulit bernapas atau terengah-engah secara tidak wajar, kondisi tersebut dapat menjadi tanda hewan sedang sakit.

Ketiga, memperhatikan lubang-lubang tubuh hewan. Pastikan tidak ada cairan atau kotoran yang keluar dari mata, telinga, mulut, maupun bagian belakang tubuh hewan.

Selain itu, kondisi bagian belakang hewan juga perlu diperhatikan. Jika tampak basah dan dipenuhi kotoran, hal itu dapat menjadi indikasi hewan sedang mengalami diare.

Teknik Penyembelihan yang Baik dan Minim Rasa Sakit

Untuk mencegah stres akibat perjalanan jauh, panitia kurban disarankan membawa hewan ke lokasi penampungan sementara sekitar 24 jam sebelum penyembelihan dilakukan.

Waktu tersebut berfungsi sebagai masa istirahat bagi hewan agar kondisinya lebih tenang. Selain itu, lokasi kandang sementara sebaiknya ditempatkan jauh dari area penyembelihan agar hewan lain tidak melihat atau mendengar proses penyembelihan.

“Usahakan 24 jam sebelumnya sudah dikirim ke tempat di mana dia akan disembelih. Kemudian, kalau mengasah pisau jangan di depan hewan kurban karena dapat memicu rasa takut dan stres,” kata Dr. Nus.

Saat proses penyembelihan dimulai, teknik menjatuhkan hewan harus dilakukan secara lembut tanpa menimbulkan rasa sakit maupun stres berlebih.

Menurut Dr. Nus, kesalahan yang masih sering terjadi di masyarakat adalah menarik kaki sapi secara paksa hingga hewan jatuh terbanting ke tanah. Sebagai solusi, ia mengenalkan metode ilmiah seperti teknik Burley dan Rope Squeeze.

Teknik tali-temali tersebut memungkinkan sapi direbahkan secara perlahan ke tanah, menyerupai posisi berbaring yang nyaman sehingga dapat meminimalkan stres pada hewan.

Tak kalah penting, alat penyembelihan yang digunakan harus berupa pisau yang sangat tajam. Pisau tajam akan membuat proses pemotongan berlangsung cepat dan meminimalkan rasa sakit pada hewan.

Standar penyembelihan yang dianjurkan adalah satu kali sayatan mampu memutus tiga saluran utama sekaligus, yakni saluran darah, saluran napas, dan saluran cerna.

Pengelolaan Daging Secara Higienis

Setelah proses penyembelihan selesai, pengelolaan daging juga harus dijaga kebersihannya dengan memisahkan tempat penanganan daging dan organ dalam atau jeroan.

Dalam dunia medis veteriner, organ dalam dibagi menjadi dua kategori, yakni organ merah seperti jantung, hati, dan paru-paru, serta organ hijau berupa saluran pencernaan seperti lambung dan usus.

Organ hijau memiliki tingkat kontaminasi bakteri yang tinggi sehingga tidak boleh didekatkan dengan daging bersih.

Selain itu, limbah sisa kurban, terutama darah dan isi perut hewan, tidak boleh dibuang sembarangan ke lingkungan atau sungai karena berpotensi menyebarkan kuman penyakit.

“Pengelolaan yang baik akan menghasilkan daging yang memenuhi prinsip ASUH, yakni Aman, Sehat, Utuh, dan Halal,” tutup Dr. Nus. []

Apa reaksi Anda?

Komentari!

Artikel Terkait

Load More Posts Loading...No more posts.