ORINEWS.id – Merebaknya kasus penyakit akibat hantavirus memicu meningkatnya kewaspadaan masyarakat terhadap tikus sebagai hewan pembawa virus tersebut. Hantavirus diketahui merupakan kelompok virus zoonosis yang ditularkan melalui hewan pengerat, terutama tikus.
Kepala Laboratorium Entomologi Kesehatan Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University, Prof. Upik Kesumawati, menjelaskan bahwa hantavirus sebenarnya sudah lama dikenal dalam penelitian di Indonesia sejak 1980-an. Virus ini dapat menyebabkan gangguan serius pada paru-paru maupun ginjal.
“Virus ini memang sudah lama ada dan penyebab utamanya adalah tikus. Namun, kami mengimbau masyarakat untuk tidak perlu khawatir berlebihan,” kata Upik.
Ia menjelaskan, manusia dapat terinfeksi setelah menghirup debu yang terkontaminasi urine, feses, atau air liur tikus yang membawa virus. Penularan juga bisa terjadi melalui kontak langsung dengan kotoran tikus maupun makanan yang telah terkontaminasi.
Berdasarkan pedoman Kementerian Kesehatan RI, hantavirus umumnya menyebabkan dua sindrom utama, yakni Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) dan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS).
HPS menyerang sistem pernapasan dan dapat menyebabkan penumpukan cairan di paru-paru. Sementara HFRS menyerang ginjal dan berpotensi memicu komplikasi serius.
Gejala awal infeksi hantavirus meliputi demam, nyeri otot terutama di paha, punggung, dan bahu, tubuh lemas, sakit kepala, hingga gangguan saluran pencernaan.
Dalam kondisi lebih lanjut, sekitar empat hingga 10 hari setelah terinfeksi, penderita dapat mengalami batuk, sesak napas yang berkembang cepat, hingga penurunan kadar oksigen dalam darah, sebagaimana dijelaskan Kementerian Kesehatan melalui situs resminya.
Pada kasus HFRS, gejala dapat berkembang menjadi tekanan darah rendah, syok, kebocoran pembuluh darah, bahkan gagal ginjal akut.
Upik juga menyoroti salah satu jenis hantavirus yang kini menjadi perhatian dunia, yakni Andes virus. Varian ini dilaporkan memiliki kemungkinan penularan antarmanusia, meski kasusnya sangat jarang terjadi.
Untuk langkah pencegahan, masyarakat diimbau menjaga kebersihan rumah dan lingkungan agar tidak menjadi tempat berkembang biaknya tikus.
“Jangan langsung menyapu atau menyedot debu sarang dan kotoran tikus yang kering karena partikel virus dapat beterbangan dan terhirup. Basahi terlebih dahulu area tersebut menggunakan larutan disinfektan,” jelas Upik, dikutip dari laman IPB University.
Selain itu, masyarakat dianjurkan rutin mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir setelah beraktivitas di area yang berpotensi menjadi habitat tikus.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala demam disertai gangguan pernapasan atau gangguan ginjal setelah terpapar lingkungan yang dicurigai terdapat kotoran tikus.
Menurut data Kementerian Kesehatan RI, hantavirus tergolong penyakit langka, tetapi memiliki tingkat fatalitas yang cukup tinggi. Tingkat kematian akibat HPS dapat mencapai sekitar 40 persen, sedangkan HFRS berkisar 5 hingga 15 persen.
Karena itu, pengendalian populasi tikus serta menjaga kebersihan lingkungan dinilai menjadi langkah penting untuk mencegah penyebaran hantavirus di masyarakat. [source:nationalgeographic]































































