TERBARU

InternasionalNews

Trump Larang Pengayaan Nuklir, Iran: Siapa Dia Berani Rampas Hak Bangsa?

ORINEWS.id – Ketegangan hubungan Iran dan Amerika Serikat (AS) terus meningkat. Menjelang perundingan damai kedua yang rencananya akan digelar pekan ini, Iran dengan tegas menolak syarat Presiden AS untuk tidak lagi memperkaya nuklir. Iran bahkan mempertanyakan posisi Amerika Serikat dalam mengintervensi suatu negara.

Konflik Iran vs AS kembali memanas, meski sebelumnya sempat muncul harapan meredanya eskalasi setelah kedua pihak menyepakati gencatan senjata selama dua minggu.

Dalam negosiasi pertama yang digelar di Islamabad, Pakistan, pada 11 April lalu, pihak AS menegaskan bahwa jika Iran ingin mengakhiri konflik, maka syarat utama yang harus dipenuhi adalah tidak lagi mengembangkan teknologi nuklir. Namun, syarat tersebut ditolak oleh Iran sehingga perundingan berakhir tanpa kesepakatan.

Iran: Siapa Dia sehingga Berani Merampas Hak Suatu Bangsa?

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengkritik keras sikap Amerika Serikat terkait program nuklir Iran dengan mempertanyakan otoritas Washington dalam membatasi akses Teheran terhadap teknologi nuklir.

Dalam pidatonya, Pezeshkian menegaskan bahwa program nuklir Iran merupakan bagian dari hak kedaulatan negara dan tidak seharusnya diintervensi oleh pihak luar.

“Trump mengatakan Iran tidak dapat menggunakan hak nuklirnya tetapi tidak mengatakan atas kejahatan apa. Siapa dia sehingga berani merampas hak suatu bangsa?” ujar Pezeshkian, dikutip Reuters, Minggu (19/4/2026).

Ia secara khusus menyinggung Presiden AS, Donald Trump, dengan menyatakan bahwa tidak ada dasar hukum maupun moral bagi Amerika Serikat untuk melarang Iran memanfaatkan hak nuklirnya. Ia juga mempertanyakan legitimasi AS dalam menentukan kebijakan internal negara lain.

Pemerintah Iran selama ini konsisten menyatakan bahwa program nuklirnya bersifat damai dan berada dalam kerangka hak nasional, sehingga menolak tekanan internasional yang dianggap sebagai bentuk intervensi.

Trump Ancam Hancurkan Iran Jika Tidak Sepakati Proposal Perdamaian

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dalam wawancara dengan Fox News pada 19 April 2026, menyampaikan pernyataan keras terkait Iran.

Trump mengatakan bahwa jika kesepakatan yang sedang dinegosiasikan tidak tercapai, AS akan mengambil tindakan militer besar-besaran terhadap infrastruktur Iran, termasuk jembatan dan pembangkit listrik.

Ia bahkan memperingatkan bahwa negara tersebut bisa mengalami kehancuran luas jika tidak menandatangani perjanjian yang ditawarkan.

Trump juga menegaskan bahwa AS sedang bersiap menyerang Iran lebih kuat dari negara mana pun yang pernah menjadi target sebelumnya, dengan alasan utama mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.

“Jika kesepakatan tidak tercapai, kesepakatan yang telah kita buat, maka saya akan menghancurkan jembatan dan pembangkit listrik mereka. Jika mereka tidak menandatangani ini, seluruh negara akan hancur,” ancam Trump, Minggu (19/4).

“Kita bersiap untuk menyerang mereka lebih keras daripada negara mana pun yang pernah diserang sebelumnya karena Anda tidak dapat membiarkan mereka memiliki senjata nuklir,” tambahnya.

Meski menyampaikan ancaman serangan militer, Trump menyebut delegasi perdamaiannya akan bertolak ke Islamabad untuk melanjutkan perundingan pada Selasa pagi, 21 April 2026.

“Jared Kushner dan Steve Witkoff akan menuju Timur Tengah. Mereka akan berangkat [Senin]. Pertemuan mereka akan dimulai pada Selasa pagi. Ini kesepakatan yang sangat sederhana, mereka telah menyetujui sebagian besarnya,” ujarnya. []

Apa reaksi Anda?

Komentari!

Artikel Terkait

Load More Posts Loading...No more posts.