ORINEWS.id – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Banda Aceh, Irwansyah, mendorong pihak swasta agar menyerap tenaga kerja lebih banyak ke depan. Ia juga meminta pihak perbankan memberikan kelonggaran syarat kepada pengusaha pemula agar lebih mudah memperoleh pembiayaan.
Hal tersebut dilakukan guna mendorong pengentasan pengangguran di Banda Aceh yang saat ini angkanya masih sangat tinggi, bahkan berada di atas rata-rata angka pengangguran nasional.
Pernyataan tersebut disampaikan Irwansyah saat bertemu dengan perusahaan-perusahaan swasta dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) tentang optimalisasi peningkatan keterampilan pelaku usaha dalam rangka mengurangi pengangguran di Banda Aceh. Kegiatan tersebut berlangsung pada Selasa, 3 Maret 2026, di Gedung DPRK Banda Aceh.
Dalam RDPU tersebut, ia menyampaikan bahwa tingginya angka pengangguran di Banda Aceh menjadi tugas bersama antara wali kota, DPRK, dan pihak swasta untuk mencari solusinya.
“Untuk menyelesaikan pengangguran, maka pihak swasta harus ikut berkontribusi, karena sektor swastalah yang saat ini mampu menyerap tenaga kerja lebih banyak,” ujar politisi muda PKS tersebut.
Di sisi lain, Irwansyah mengatakan Pemerintah Kota Banda Aceh juga terus mengembangkan sektor ekonomi kreatif dan UMKM. Menurutnya, sektor ini mampu menyerap tenaga kerja sekaligus menciptakan wirausahawan muda.
Kepada pihak perbankan yang beroperasi di Banda Aceh, ia meminta agar syarat pembiayaan bagi pengusaha pemula dapat diperingan.
“Selama ini untuk mendapatkan pembiayaan KUR harus sudah memiliki pengalaman usaha. Bagaimana mungkin seseorang memiliki pengalaman, sementara mereka baru didorong untuk memulai usaha melalui UMKM agar bisa tumbuh,” ujarnya.
Irwansyah juga menyampaikan bahwa saat ini terjadi kondisi yang paradoks di Banda Aceh. Berdasarkan data, kredit usaha rakyat (KUR) untuk UMKM di sejumlah bank telah disalurkan kepada puluhan ribu pelaku usaha. Namun, fakta di lapangan menunjukkan angka pengangguran tidak kunjung turun.
Ia pun mempertanyakan efektivitas penyaluran KUR terhadap pengembangan UMKM dan dunia usaha.
Berdasarkan data yang dipaparkan dalam pertemuan tersebut, Bank Aceh menyalurkan KUR sebesar Rp1,5 triliun ke seluruh wilayah Aceh. Sementara itu, Bank Syariah Indonesia (BSI) menyalurkan lebih tinggi, yakni mencapai Rp3 triliun. Namun demikian, angka pengangguran belum menunjukkan penurunan yang signifikan.
Ia juga menyoroti bahwa meskipun pembiayaan KUR terus dikucurkan, masih banyak UMKM di Banda Aceh yang stagnan dan belum mampu naik kelas. Ia mempertanyakan penyebab kondisi tersebut.
Selain itu, menurutnya Banda Aceh seakan telah menasbihkan diri sebagai kota jasa dan UMKM. Oleh karena itu, ia mendorong pihak perbankan agar turut menyasar pembiayaan ke sektor kreatif, seperti konten kreator, pelaku jasa perfilman, dan berbagai jasa kreatif lainnya.
Sementara itu, Kepala Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Aceh, Rahmad Faisal, yang berada di bawah Kementerian Ketenagakerjaan, menyampaikan bahwa pihaknya memiliki 12 jurusan pelatihan tenaga kerja di Banda Aceh dan para lulusannya siap terjun ke dunia kerja.
Beberapa pelatihan tersebut disesuaikan dengan kebutuhan pasar, seperti tukang las, barista, hingga pembuatan kue yang saat ini sedang berkembang.
Namun, berdasarkan catatan BPVP, dari banyaknya lulusan yang dilatih, hanya sebagian kecil yang terserap ke dunia kerja. Sementara sebagian lainnya belum diketahui arah selanjutnya.
Meski demikian, pihaknya terus meningkatkan kualitas pelatihan melalui program yang lebih modern serta pemberian sertifikasi bagi peserta pelatihan.
Sementara itu, Ketua Komisi II DPRK Banda Aceh, M Zidan Al Hafidh, menyampaikan bahwa sejumlah usaha potensial di Banda Aceh harus mendapatkan pendampingan agar dapat berkembang dan naik kelas.
Ia juga menyoroti kalangan generasi Z yang saat ini memiliki akses informasi yang luas, namun sering kali tidak mendalam. Menurutnya, kondisi tersebut dapat memengaruhi ketahanan mereka di dunia kerja maupun dunia usaha karena cenderung cepat merasa bosan.
Di sisi lain, sejumlah pelaku usaha di Banda Aceh, khususnya dari sektor perhotelan, mengakui masih ada hal yang perlu ditingkatkan dari tenaga kerja muda, terutama terkait kegigihan, loyalitas, dan kemampuan hospitality.
Mereka menyampaikan masih terdapat persoalan pada kualitas sumber daya manusia yang perlu terus dikembangkan. Bahkan, ada yang menyebutkan bahwa untuk membiasakan sikap ramah dan senyum kepada pelanggan pun masih menjadi tantangan tersendiri.
Menutup RDPU tersebut, Irwansyah menambahkan bahwa setiap tahun perguruan tinggi meluluskan ribuan alumni. Namun, serapan tenaga kerja masih sangat terbatas.
Jika tidak ada upaya penyerapan tenaga kerja yang lebih baik, ia khawatir angka pengangguran di Banda Aceh akan terus meningkat. []











































































