ORINEWS.id – Pengerahan militer Amerika Serikat (AS) secara besar-besaran di kawasan Timur Tengah dinilai membuka kemungkinan serangan terhadap Iran jika Presiden Donald Trump memutuskan untuk bertindak. Aset yang dikerahkan mencakup kapal perang, jet tempur, dan pesawat pengisi bahan bakar, menandai kesiapan militer AS untuk aksi lebih lanjut.
Trump, yang tahun lalu memerintahkan serangan terhadap Iran, berulang kali memperingatkan Teheran akan konsekuensi militer jika perundingan pengganti perjanjian nuklir 2018 gagal. Meski belum ada keputusan resmi, media AS, termasuk CNN dan CBS, melaporkan militer AS siap melancarkan serangan paling cepat akhir pekan ini.
Menurut sejumlah sumber yang dikutip CNN, Gedung Putih telah menerima pengarahan bahwa angkatan udara dan angkatan laut siap menghadapi skenario militer. Namun, Trump disebut masih meminta masukan penasihat dan sekutu sebelum mengambil keputusan.
Para pejabat keamanan nasional AS menggelar pertemuan di Situation Room pada Rabu (18/2) waktu setempat. Trump juga mendapatkan laporan dari utusan khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, dan menantunya Jared Kushner, mengenai pembicaraan tidak langsung dengan Iran di Swiss pada Selasa (17/2).
Perundingan 3,5 jam antara negosiator AS dan Iran yang dimediasi Oman berakhir tanpa kesepakatan definitif. Teheran menyatakan kedua pihak menyepakati “serangkaian prinsip panduan”, sementara pejabat AS menekankan masih banyak rincian yang harus dibahas.
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menegaskan diplomasi tetap menjadi opsi utama Trump, meski aksi militer tidak dikesampingkan.
“Presiden selalu sangat jelas, terkait dengan Iran atau negara mana pun di dunia, diplomasi selalu menjadi pilihan pertamanya,” ujarnya.
Sementara itu, selain kapal induk USS Abraham Lincoln, kapal induk USS Gerald R Ford – yang disebut sebagai kapal induk tercanggih AS – diperkirakan dapat tiba di kawasan Timur Tengah paling cepat akhir pekan ini. Pengerahan ini semakin meningkatkan kekhawatiran kemungkinan konflik militer, meski para pejabat kedua negara masih berharap solusi diplomatik tercapai. []







































































