ORINEWS.id – Kepolisian Kanada melaporkan sembilan orang tewas dan sedikitnya 25 lainnya terluka dalam aksi penembakan yang terjadi di Sekolah Tumbler Ridge dan sebuah rumah di dekatnya, di Provinsi British Columbia.
Enam korban ditemukan meninggal di dalam gedung sekolah. Satu korban lainnya tewas dalam perjalanan menuju rumah sakit, sementara dua korban lain ditemukan tidak bernyawa di sebuah rumah yang berlokasi tak jauh dari sekolah tersebut.
Polisi menyatakan terduga pelaku ditemukan tewas di dalam sekolah dengan dugaan bunuh diri. Aparat telah mengantongi identitas pelaku, namun belum mengumumkan nama maupun jenis kelaminnya kepada publik.
Kepala Inspektur Kepolisian Kerajaan Kanada (RCMP) Ken Floyd membenarkan bahwa tersangka adalah orang yang sama dengan yang disebut dalam peringatan darurat yang dikirim ke telepon genggam warga setempat. Dalam peringatan tersebut, tersangka digambarkan sebagai “seorang perempuan yang mengenakan gaun dan berambut cokelat.”
Hingga kini, polisi belum mengungkap jenis senjata yang digunakan dalam serangan tersebut. Sekitar 100 siswa dan staf sekolah telah dievakuasi dari lokasi kejadian.
Tumbler Ridge merupakan kota kecil berpenduduk sekitar 2.400 jiwa yang terletak sekitar 1.200 kilometer di utara Vancouver, kota terbesar di British Columbia.
Seorang siswa kelas 12 di Sekolah Tumbler Ridge, Darian Quist, menceritakan detik-detik saat penembakan berlangsung kepada CBC Radio West. Ia mengatakan tiba di kelas sekitar pukul 13.30 waktu setempat ketika alarm berbunyi di lorong sekolah dengan instruksi agar pintu kelas segera ditutup.
Quist dan teman-temannya menyadari situasi darurat setelah menerima foto-foto penembakan melalui telepon genggam. “Mengambil meja membarikade pintu,” kata Quist, menggambarkan upaya mereka berlindung di dalam kelas selama lebih dari dua jam hingga polisi datang dan mengawal mereka keluar.
Menteri Keamanan Publik Kanada Nina Kriege dalam konferensi pers memastikan pemerintah akan memberikan dukungan penuh kepada masyarakat terdampak dalam beberapa hari ke depan. Ia menyatakan konselor kesehatan mental sedang dikerahkan untuk membantu para korban dan keluarga.
Perdana Menteri Kanada Mark Carney menyatakan dirinya “sangat terpukul” oleh “penembakan mengerikan” tersebut. Melalui media sosial X, ia menuliskan, “Doa dan belasungkawa terdalam, saya sampaikan kepada keluarga dan teman-teman yang telah kehilangan orang yang mereka cintai dalam tindakan kekerasan yang mengerikan ini.”
“Saya bersama seluruh warga Kanada turut berduka cita atas mereka yang hidupnya telah berubah secara permanen hari ini, dan turut bersyukur atas keberanian dan pengorbanan diri para petugas tanggap darurat yang mempertaruhkan nyawa mereka untuk melindungi sesama warga negara,” ujar Carney.
Ia juga menambahkan, “Kemampuan kita untuk bersatu di saat krisis adalah hal terbaik dari negara kita: empati kita, persatuan kita, dan belas kasih kita kepada sesama.”
Kantor berita Reuters melaporkan Carney membatalkan rencana perjalanannya ke Jerman untuk menghadiri Konferensi Keamanan Munich menyusul insiden tersebut. Konferensi itu biasanya dihadiri lebih dari 60 kepala negara dan pemerintahan.
Perdana Menteri British Columbia David Eby mengajak seluruh warga Kanada memberikan dukungan kepada masyarakat Tumbler Ridge dan keluarga korban. “Ini adalah sesuatu yang akan berdampak selama bertahun-tahun,” kata dia, seraya menegaskan bahwa prioritas utama saat ini adalah membantu warga yang terdampak.
Tragedi di Tumbler Ridge menjadi salah satu penembakan paling mematikan dalam sejarah Kanada. Pada 2020, seorang pria bersenjata yang menyamar sebagai anggota Mountie membunuh 22 orang di Nova Scotia. Sebelumnya, pada 1989, 14 perempuan tewas dalam serangan anti-feminis di Universitas L’Ecole Polytechnique di Montreal.
Kanada dikenal memiliki undang-undang kepemilikan senjata api yang lebih ketat dibandingkan Amerika Serikat, sehingga insiden penembakan massal relatif jarang terjadi di negara tersebut. []


































