ORINEWS.id – Penjajah Israel dilaporkan melancarkan agresi udara terhadap ibu kota Yaman, Sanaa, pada Kamis waktu setempat. Serangan terkonsentrasi di sektor selatan kota dan menargetkan fasilitas serta infrastruktur sipil.
Menurut keterangan Pertahanan Sipil Yaman, tim penyelamat segera dikerahkan ke lokasi serangan untuk mengevakuasi korban dan memadamkan kebakaran.
Pertahanan Yaman Hadapi Pesawat Tempur Israel
Koresponden Al Mayadeen di Yaman menyebutkan pertahanan udara Yaman menghadapi sejumlah formasi jet tempur Israel yang terlibat dalam serangan. Sebagian pesawat dilaporkan mundur sebelum melancarkan serangan.
“Puluhan jet tempur Israel dikerahkan dalam operasi skala besar, namun pasukan Yaman melakukan beberapa penyergapan yang berhasil menangkis sebagian besar serangan,” kata seorang sumber militer Yaman kepada Al Mayadeen.
Meski sebagian serangan digagalkan, sumber itu menambahkan, Israel menggunakan kekuatan angkatan laut untuk menyerang Sanaa. “Pertahanan kami berhasil menghadapi agresi Israel dan menggagalkan sebagian besar tujuannya,” ujarnya.
31 Jurnalis Tewas
Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) merilis laporan terbaru pada Jumat, yang menyebutkan serangan udara Israel terhadap kompleks surat kabar di Sanaa pada 10 September menewaskan 31 jurnalis dan pekerja media.
Serangan itu digambarkan sebagai yang paling mematikan terhadap jurnalis sejak pembantaian Maguindanao di Filipina 16 tahun lalu, sekaligus menjadi insiden kedua paling mematikan yang pernah dicatat CPJ.
Serangan menghantam kompleks pers pemerintah pukul 16.45 waktu setempat, saat staf tengah menyelesaikan edisi mingguan. “Kerugiannya sangat menyakitkan,” kata pemimpin redaksi Nasser al-Khadri. Ia menyebut mesin cetak dan arsip surat kabar berusia seabad hancur akibat serangan.
Seorang anak yang menemani orang tuanya yang bekerja sebagai jurnalis juga termasuk dalam korban tewas.
“Propaganda Tidak Cukup Menjadikan Media Target Militer”
Human Rights Watch menegaskan penyerangan terhadap institusi media tidak dapat dibenarkan. “Propaganda tidak cukup untuk menjadikan sebuah institusi media sebagai target militer,” kata Niku Jafarnia, peneliti Yaman dan Bahrain di HRW.
Menurut hukum internasional, jurnalis dianggap warga sipil kecuali terlibat langsung dalam permusuhan.
CPJ menempatkan serangan terhadap jurnalis di Yaman sebagai bagian dari pola serangan Israel terhadap media di Gaza, Lebanon, Iran, dan Yaman sejak 7 Oktober 2023. Laporan itu mencatat setidaknya 233 pekerja media tewas.
Serangan di Sanaa serupa dengan serangan Israel pada Juni lalu terhadap lembaga penyiaran pemerintah Iran di Teheran, setelah Menteri Keamanan Israel Israel Katz menyatakan “corong propaganda Iran akan menghilang”. []



































































