TERBARU

InternasionalNews

Kelaparan Ancam Warga Gaza di Tengah Blokade Zionis Israel

ORINEWS.id – Jeritan dan desakan warga Gaza yang putus asa menggema di dapur umum Khan Younis, Gaza selatan, Jumat (3/5). Anak-anak dan orang dewasa melambai-lambaikan panci dan wajan ke arah para relawan, berharap mendapat sedikit dari sisa bantuan makanan terakhir: nasi.

Kekacauan itu membuat Niveen Abu Arar (33), ibu delapan anak, harus pulang dengan panci kosong dan mata berkaca-kaca.

“Kami perlahan-lahan sekarat. Sudah satu setengah bulan kami tidak makan roti. Tidak ada tepung. Tidak ada apa-apa,” ujarnya.

Abu Arar kehilangan anak kesembilannya, seorang bayi laki-laki berusia satu tahun, akibat serangan udara Israel pada awal perang tahun 2023. Kini, tanpa susu untuk bayi perempuannya yang masih kecil, ia hanya bisa memberikan air putih dalam botol.

Blokade penuh yang diberlakukan Israel sejak dua bulan terakhir telah menghentikan aliran semua bentuk bantuan — termasuk makanan dan obat-obatan — ke wilayah Gaza. Organisasi bantuan internasional memperingatkan, penduduk Gaza menghadapi ancaman kelaparan massal.

Zionis Israel berdalih bahwa langkah tersebut ditujukan untuk menekan Hamas agar membebaskan sandera yang masih ditahan dan untuk melucuti senjata kelompok tersebut. Namun, organisasi kemanusiaan menyebut blokade ini sebagai bentuk hukuman kolektif yang melanggar hukum internasional.

Dalam panggilan darurat dengan wartawan, Jumat lalu, lembaga bantuan menggambarkan Gaza sebagai wilayah yang hampir sepenuhnya kehabisan makanan, air, dan bahan bakar. Harga kebutuhan pokok melonjak tajam, jauh dari jangkauan masyarakat umum. Menurut data Oxfam, satu karung tepung 25 kilogram kini dijual hingga 1.300 shekel (sekitar Rp 5,8 juta).

“Ibu-ibu di Gaza sekarang hanya memberi makan anak mereka sekali sehari, agar mereka tidak bangun dengan kelaparan,” ujar Ghada al Haddad, Koordinator Media Oxfam di Gaza.

Organisasi LSM Palestina memperkirakan lebih dari 70 dapur umum terpaksa tutup minggu ini jika blokade terus berlanjut. Serangan udara Israel juga telah menghancurkan lahan pertanian dan peternakan, membuat produksi pangan lokal nyaris mustahil dilakukan. Bahkan nelayan pun menjadi sasaran serangan, menurut Gavin Kelleher dari Norwegian Refugee Council (NRC).

“Israel telah menciptakan situasi di mana warga Palestina tidak bisa menanam atau menangkap makanan sendiri,” kata Kelleher.

Ia juga menyampaikan bahwa tidak ada organisasi bantuan yang masih memiliki tenda untuk didistribusikan, sementara sekitar satu juta orang masih memerlukan tempat tinggal akibat perang yang telah berlangsung hampir 19 bulan.

Di tengah situasi ini, warga Gaza seperti Mustafa Ashour harus berjalan satu jam dan menunggu dua jam lagi untuk mendapatkan makanan dari dapur umum.

“Ini pengepungan total. Tidak ada makanan. Tidak ada air. Tidak ada kebutuhan hidup,” katanya.

Bagi Abu Arar yang tak kebagian bantuan, keluarga di tenda sebelah berbagi sedikit nasi. Namun, situasi itu mencerminkan betapa dalam krisis kemanusiaan yang terjadi.

Kelleher memperingatkan, jika blokade tidak segera dihentikan, “ribuan orang akan mati, tatanan sosial akan runtuh, jaringan komunikasi akan padam, dan dunia akan kehilangan jejak atas apa yang sebenarnya terjadi karena semuanya akan terjadi dalam kegelapan.”

Apa reaksi Anda?

Komentari!

Artikel Terkait

Load More Posts Loading...No more posts.