ORINEWS.id, BANDA ACEH — Dunia pers Aceh kembali berduka. Wartawan senior, tokoh pers Aceh, pendiri Harian Serambi Indonesia, sekaligus mantan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh tiga periode, H Sjamsul Kahar, berpulang ke rahmatullah, Kamis (24/9/2026).
Sjamsul Kahar meninggal dunia pada pukul 02.20 WIB di Rumah Sakit Umum Daerah dr Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh. Almarhum sebelumnya menjalani perawatan intensif di rumah sakit tersebut sejak 13 September 2026.
Sjamsul Kahar meninggal dunia pada usia 80 tahun. Almarhum merupakan ayahanda Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Nezar Patria.
Kabar duka tersebut beredar luas di kalangan jurnalis Aceh melalui sejumlah grup WhatsApp. Almarhum rencananya dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Gampong Mulia, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh.
Sosok Sjamsul Kahar
Sjamsul Kahar lahir di Sigli, 9 Oktober 1945. Puluhan tahun kehidupannya didedikasikan untuk dunia jurnalistik dan perkembangan pers di Aceh.
Namanya tidak dapat dipisahkan dari sejarah Harian Serambi Indonesia. Bersama M. Nourhalidyn, Sjamsul Kahar mengembangkan Mimbar Swadaya menjadi Harian Serambi Indonesia yang terbit perdana pada 9 Februari 1989.
Sjamsul Kahar kemudian dipercaya menjadi pemimpin redaksi. Sebelumnya, ia dikenal sebagai wartawan Kompas yang bertugas di Aceh.
Perjalanan jurnalistiknya berlangsung dalam situasi yang tidak mudah. Pada masa konflik Aceh, kerja jurnalistik menghadapi berbagai tekanan dan ancaman. Pada 1999, rumah Sjamsul Kahar diserang bom molotov. Ia juga menerima ancaman kematian terkait pekerjaannya sebagai pimpinan redaksi Serambi Indonesia.
Salah satu bagian penting dalam perjalanan Sjamsul Kahar terjadi ketika tsunami menghantam Aceh pada 26 Desember 2004.
Bencana tersebut menghancurkan kantor dan mesin cetak Serambi Indonesia. Puluhan pekerja media menjadi korban atau hilang. Surat kabar yang selama ini menjadi salah satu sumber informasi masyarakat Aceh itu sempat berhenti terbit.
Namun, Sjamsul Kahar bersama rekan-rekannya memilih menghidupkan kembali Serambi Indonesia. Enam hari setelah tsunami, tepatnya 1 Januari 2005, koran tersebut kembali terbit dengan sumber daya yang sangat terbatas dan menggunakan mesin cetak di Lhokseumawe.
Tiga Periode Memimpin PWI Aceh
Selain dikenal sebagai tokoh penting dalam perkembangan Serambi Indonesia, Sjamsul Kahar juga meninggalkan jejak dalam organisasi profesi wartawan.
Ia memimpin PWI Aceh selama tiga periode, yakni 1985–1991, 1991–1995, dan 1995–1999.
Pada masa kepemimpinannya, kelembagaan PWI Aceh berkembang, termasuk pembangunan gedung PWI Aceh di Jalan T. Angkasah, Banda Aceh.
Perhatian Sjamsul Kahar terhadap sejarah pers dan profesi wartawan juga tetap terlihat hingga tahun-tahun terakhir kehidupannya.
Pada 2023, ketika PWI Aceh menampilkan sejarah perjalanan organisasi dalam Pekan Kebudayaan Aceh, Sjamsul Kahar mengingatkan pentingnya sejarah pers diketahui masyarakat dan generasi muda.
Kepergian Sjamsul Kahar meninggalkan duka bagi keluarga dan kalangan pers Aceh. Ia merupakan bagian dari generasi wartawan yang turut membangun dan mengembangkan fondasi jurnalistik di Aceh.
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.















































































