ORINEWS.id – Tensi tinggi atau hipertensi merupakan kondisi ketika tekanan darah berada di atas batas normal. Seseorang dikatakan mengalami hipertensi jika hasil pengukuran tekanan darah mencapai 140/90 mmHg atau lebih.
Dikutip dari alodokter, Minggu (2/7), Hipertensi sering dijuluki sebagai “silent killer” karena umumnya tidak menimbulkan gejala. Meski demikian, jika tidak dikendalikan, kondisi ini dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, gagal ginjal, hingga berbagai komplikasi serius lainnya.
Karena itu, penting untuk mengenali penyebab hipertensi sekaligus menerapkan langkah-langkah pencegahan sejak dini.
Penyebab Tensi Tinggi
Berdasarkan penyebabnya, hipertensi dibagi menjadi dua jenis, yaitu hipertensi primer, yang berkembang secara bertahap tanpa penyebab pasti, dan hipertensi sekunder, yang dipicu oleh penyakit atau kondisi medis tertentu.
Berikut beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya hipertensi:
1. Faktor Keturunan
Riwayat hipertensi dalam keluarga dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami tekanan darah tinggi. Faktor genetik memengaruhi cara tubuh mengatur tekanan darah sehingga risiko menjadi lebih besar dibandingkan mereka yang tidak memiliki riwayat keluarga.
2. Bertambahnya Usia
Seiring bertambahnya usia, pembuluh darah cenderung kehilangan elastisitas dan menjadi lebih kaku. Kondisi ini membuat tekanan darah meningkat sehingga risiko hipertensi juga semakin tinggi.
3. Gaya Hidup Tidak Sehat
Merokok, kurang berolahraga, pola makan tinggi garam, serta konsumsi alkohol berlebihan merupakan faktor utama penyebab hipertensi.
Nikotin pada rokok dapat menyempitkan pembuluh darah dan meningkatkan denyut jantung. Sementara konsumsi alkohol berlebihan dapat memicu peningkatan hormon stres (kortisol) yang turut meningkatkan tekanan darah.
4. Obesitas
Berat badan berlebih membuat jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Beban kerja jantung yang meningkat dalam jangka panjang dapat menyebabkan tekanan darah naik dan memicu hipertensi.
5. Penyakit Tertentu
Hipertensi sekunder dapat disebabkan oleh sejumlah kondisi medis, seperti:
- Penyakit ginjal
- Gangguan kelenjar adrenal
- Sleep apnea
- Koarktasio aorta
- Preeklamsia pada ibu hamil
Mengatasi penyakit penyebabnya dapat membantu mengendalikan tekanan darah.
6. Efek Samping Obat
Beberapa jenis obat juga dapat meningkatkan tekanan darah, di antaranya:
- Pil kontrasepsi (pil KB)
- Obat antidepresan
- Obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS)
Apabila tekanan darah meningkat setelah mengonsumsi obat tertentu, jangan menghentikan pengobatan tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter.
Cara Mencegah Tensi Tinggi
Meski faktor usia dan keturunan tidak dapat diubah, risiko hipertensi tetap bisa ditekan melalui pola hidup sehat.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Batasi konsumsi garam maksimal sekitar 1 sendok teh per hari.
- Perbanyak makanan kaya kalium, seperti pisang, bayam, kentang, susu, dan kacang merah.
- Berolahraga minimal 30 menit sehari, lima kali dalam seminggu.
- Menjaga berat badan tetap ideal.
- Tidur yang cukup setiap malam.
- Menghindari rokok dan minuman beralkohol.
- Rutin memeriksa tekanan darah, terutama jika memiliki faktor risiko hipertensi.
Bagi penderita hipertensi, perubahan gaya hidup tersebut tetap penting dilakukan sebagai pendamping pengobatan yang diberikan dokter.
Pemeriksaan tekanan darah secara rutin juga dianjurkan bagi mereka yang memiliki riwayat hipertensi dalam keluarga atau menderita penyakit yang dapat memicu tekanan darah tinggi. Dengan deteksi dini, hipertensi dapat dikendalikan sehingga risiko komplikasi serius dapat diminimalkan.[]
















































































