ORINEWS.id – Rusia memamerkan kekuatan militernya dengan menembakkan rudal jelajah hipersonik Zirkon dan mengerahkan pesawat tempur-pengebom supersonik Sukhoi Su-34 dalam latihan militer gabungan dengan Belarus, Minggu, 14 September 2025.
Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan latihan strategis bersama bertajuk Zapad atau Barat ini telah dimulai pada 12 September. Latihan tersebut, menurut Moskow dan Minsk, bertujuan meningkatkan komando dan koordinasi militer apabila terjadi serangan terhadap Rusia atau Belarus.
Meski disebut bersifat defensif, latihan ini memicu respons dari NATO. Aliansi militer pimpinan Amerika Serikat itu mengumumkan operasi Eastern Guardian atau Penjaga Timur menyusul dugaan serangan pesawat nirawak Rusia ke wilayah Polandia pada 9-10 September lalu.
Rudal Zirkon Menghantam Target di Laut Barents
Dalam rekaman yang dirilis Kementerian Pertahanan, fregat Laksamana Golovko dari Armada Utara terlihat menembakkan rudal hipersonik Zirkon ke sebuah target di Laut Barents. Rudal tersebut diluncurkan secara vertikal sebelum meluncur ke cakrawala.
“Menurut data pemantauan objektif yang diterima secara langsung, target tersebut hancur oleh serangan langsung,” tulis pernyataan resmi Kementerian.
Presiden Rusia Vladimir Putin sebelumnya menyebut rudal Zirkon mampu terbang sembilan kali kecepatan suara dan menghantam sasaran di laut maupun darat hingga jarak lebih dari 1.000 kilometer. Media Rusia melaporkan rudal berkode 3M22 Zirkon atau SS-N-33 versi NATO itu memiliki jangkauan 400-1.000 kilometer, dengan hulu ledak seberat 300-400 kilogram.
Fokus Rusia pada Senjata Hipersonik
Rusia diketahui menginvestasikan sumber daya besar untuk mengembangkan senjata hipersonik. Beberapa proyek andalannya termasuk wahana luncur Avangard dan rudal jelajah Zirkon, keduanya diklaim sudah operasional. Selain itu, Moskow juga telah mengerahkan rudal Kinzhal, yang berasal dari teknologi balistik lama namun dipasarkan sebagai rudal hipersonik.
“Rusia berupaya menegaskan dominasinya di bidang teknologi hipersonik, sementara Amerika Serikat masih tertinggal,” tulis Sam Skove dari Foreign Policy.
Amerika Serikat Tertinggal
Sementara itu, program hipersonik Amerika Serikat masih menghadapi berbagai penundaan. Program Dark Eagle milik Angkatan Darat, misalnya, tertunda berulang kali meski diharapkan segera dikerahkan.
Dua proyek utama Angkatan Udara AS—Air-Launched Rapid Response Weapon (ARRW) dan Hypersonic Attack Cruise Missile (HACM)—baru diperkirakan siap diproduksi masing-masing pada 2026 dan 2027, menurut dokumen anggaran Pentagon. []
































