ORINEWS.id – Penurunan tajam harga bitcoin dalam beberapa hari terakhir memicu kebingungan di kalangan investor pemula. Aset kripto terbesar di dunia itu sempat menembus level di bawah 80.000 dolar AS, turun lebih dari 30 persen dari puncak siklus sebelumnya. Di saat yang sama, likuidasi posisi berleverage dilaporkan melampaui 1 miliar dolar AS pada periode terburuk, menandai tekanan jual yang signifikan.
Sejumlah laporan pasar menyoroti likuiditas yang menipis serta arus keluar dana dari produk institusional sebagai faktor yang memperberat koreksi. Data CoinDesk menunjukkan sentimen pasar berada pada titik paling negatif tahun ini ketika harga bergerak di kisaran 82.000–85.000 dolar AS, mencerminkan meningkatnya kecemasan di kalangan investor ritel dan trader. Koreksi ini juga disebut sebagai bagian dari volatilitas “rollercoaster” pasar kripto sepanjang 2025–2026, yang mendorong sebagian perusahaan dan ETF menyesuaikan strategi.
Di tengah kondisi tersebut, analis dan pelaku industri menyarankan investor pemula menahan diri dari keputusan impulsif dan menimbang langkah secara terukur. Berikut sejumlah pertimbangan yang kerap disarankan dalam laporan pasar dan wawancara pelaku industri.
Pertama, investor diminta mengevaluasi kembali profil risiko dan horizon investasi. Tujuan, toleransi risiko, serta jangka waktu harus menjadi dasar sebelum mengambil keputusan beli atau jual. Instrumen kripto kini beragam—mulai dari spot, ETF, derivatif hingga saham perusahaan penambang—sehingga eksposur perlu disesuaikan dengan profil masing-masing. Kepala strategi Coinbase Institutional John D’Agostino menekankan pentingnya memahami cara mengekspresikan eksposur dan pengelolaan risiko, terutama terkait leverage.
Kedua, hindari keputusan panik. Aksi jual serentak dan likuidasi besar dapat memperdalam penurunan harga dalam jangka pendek. Menjual karena panik berisiko “mengunci” kerugian, terutama bila dilakukan tanpa rencana. Investor disarankan memiliki rencana tertulis sederhana, termasuk batas kerugian (stop-loss) yang realistis dan kriteria penambahan posisi.
Ketiga, pertimbangkan strategi bertahap seperti dollar-cost averaging (DCA). Pendekatan ini bertujuan mengurangi risiko market timing dengan membagi alokasi menjadi beberapa tahap pembelian berkala, bukan sekaligus.
Keempat, kurangi atau hindari penggunaan leverage. Banyak likuidasi dipicu posisi bermargin yang tertutup otomatis saat harga bergerak tajam. Bagi pemula, produk derivatif dan bermargin sebaiknya dihindari hingga memahami risiko, likuiditas, dan biaya terkait.
Kelima, gunakan platform tepercaya dan waspadai risiko operasional. Perbedaan likuiditas antar-bursa dan isu operasional dapat memperburuk dampak volatilitas. Investor disarankan memilih bursa atau kustodian dengan rekam jejak keamanan dan likuiditas yang jelas. Untuk tujuan jangka panjang, sebagian pelaku menyarankan penyimpanan mandiri pada hardware wallet.
Keenam, perhatikan arus dana institusional dan likuiditas pasar. Arus keluar masuk dana spot Bitcoin (ETF) kerap memberi tekanan tambahan pada harga. Memantau fund flows dan volume dapat membantu membaca kondisi likuiditas, terutama saat pasar tipis.
Ketujuh, lindung nilai (hedging) bisa dipertimbangkan untuk posisi besar, namun memerlukan pengetahuan dan biaya tambahan. Bagi pemula, fokus pada pengelolaan ukuran posisi dan toleransi risiko dinilai lebih realistis.
Kedelapan, manfaatkan periode volatil untuk belajar. Pasar kripto semakin menyerupai pasar finansial tradisional dalam hal produk dan alat manajemen risiko. Memahami aspek fundamental, teknikal, kustodi, serta dampak kebijakan makro dan regulasi dinilai lebih bermanfaat ketimbang bertindak reaktif. []



































