TERBARU

InternasionalNews

Iran Sinyalkan Perang Baru dengan AS, Selat Hormuz Terancam

ORINEWS.id – Iran semakin gencar memberikan sinyal kemungkinan kembalinya perang dengan Amerika Serikat (AS) di tengah berlangsungnya negosiasi yang disebut mulai mengarah pada potensi kesepakatan baru dengan Washington.

Meski para negosiator melaporkan adanya kemajuan diplomatik, situasi di lapangan justru menunjukkan ketegangan belum mereda. Mengutip CNN, Jumat (29/5/2026), AS kembali melancarkan gelombang serangan kedua ke Iran hanya dalam hitungan hari pada pekan ini. Sementara itu, kontak senjata di kawasan Selat Hormuz dilaporkan masih terus berlangsung.

Para pejabat Iran memanfaatkan momentum negosiasi untuk menunjukkan kepercayaan diri bahwa Teheran tetap memiliki opsi militer yang signifikan apabila jalur diplomasi gagal mencapai hasil.

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) bahkan menegaskan bahwa konflik baru akan meluas jauh melampaui kawasan Timur Tengah dan dapat memicu serangan besar di lokasi yang tidak terduga oleh pihak lawan.

Peringatan tersebut muncul setelah perang sebelumnya memperlihatkan kemampuan Iran menargetkan pangkalan militer AS, kota-kota Israel, hingga infrastruktur vital di negara-negara Arab Teluk. Serangan itu sempat mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz dan memicu gejolak energi global.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan bahwa setiap aksi balasan di masa depan akan menghadirkan “lebih banyak kejutan”. Sementara militer Iran mengancam membuka lapisan pertahanan baru dengan penggunaan teknologi dan senjata baru.

Pernyataan senada juga disampaikan negosiator senior Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf. Ia mengatakan angkatan bersenjata Iran memanfaatkan masa gencatan senjata untuk membangun kembali kemampuan pertahanan pada tingkat tertinggi.

Blokade Baru

Sejumlah analis menilai sebagian besar retorika tersebut bertujuan mencegah serangan lebih lanjut dari musuh. Namun, mereka juga memperingatkan bahwa Teheran tetap memiliki opsi eskalasi besar jika diplomasi gagal, termasuk melalui strategi blokade maritim.

Iran dinilai menyadari tidak dapat memenangkan perang melawan AS dan Israel melalui jalur militer konvensional. Karena itu, Teheran disebut berupaya menciptakan efek jera dengan mengganggu ekonomi global melalui blokade Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis dunia.

Selain Selat Hormuz, Iran diperkirakan dapat memperluas tekanan dengan melibatkan kelompok Houthi di Yaman untuk mengganggu jalur pelayaran di Selat Bab al-Mandeb.

Selat tersebut merupakan jalur penting perdagangan dunia yang menghubungkan rute Eropa, Asia, dan kawasan Arab. Gangguan di wilayah itu berpotensi memperbesar tekanan ekonomi global.

Pada 2023, lebih dari 10 persen perdagangan minyak dunia melalui jalur laut melewati Selat Bab al-Mandeb. Namun setelah meningkatnya ancaman keamanan maritim di dekat Yaman pada 2024, volume perdagangan minyak melalui jalur tersebut menurun hampir setengahnya, sementara pengiriman gas alam cair (LNG) turun mendekati nol, berdasarkan data Badan Informasi Energi AS (EIA).

Peneliti senior George Mason University, Umud Shokri, mengatakan krisis simultan di Selat Hormuz dan Bab al-Mandeb dapat memicu dampak besar terhadap perdagangan global.

“Krisis yang terjadi secara simultan di Bab al-Mandeb dan Selat Hormuz akan jauh lebih serius, berpotensi memengaruhi perdagangan Laut Merah dan aliran energi Teluk Persia, yang akan menaikkan harga minyak, tarif pengiriman, dan tekanan inflasi di seluruh dunia,” kata Shokri kepada CNN.

Meski demikian, Shokri menilai penutupan total Bab al-Mandeb akan lebih sulit dilakukan dibandingkan Selat Hormuz karena kawasan itu tidak berada di bawah kendali langsung Iran.

Menurut dia, skenario yang lebih realistis adalah krisis keamanan berkepanjangan yang membuat pelayaran komersial menjadi terlalu berisiko atau mahal.

Ancaman Infrastruktur Energi

Jika Presiden AS Donald Trump benar-benar menargetkan kilang minyak, infrastruktur, dan pembangkit listrik Iran, Teheran diperkirakan akan memperluas serangan ke negara-negara Arab Teluk.

Iran disebut dapat menyerang fasilitas energi sensitif untuk memicu kepanikan ekonomi global dan merusak citra negara-negara Teluk sebagai pusat bisnis internasional yang aman.

Anggota Komite Keamanan Nasional Iran, Ahmad Bakhshayesh Ardestani, menegaskan bahwa jika AS menyerang fasilitas minyak Iran, Teheran akan membalas dengan menyerang sumur minyak negara-negara Arab Teluk.

“Jika mereka berniat melakukan sesuatu sehingga kami tidak memiliki minyak, kami tidak akan menyerang pipa mereka, kami akan menyerang sumur-sumur minyaknya sehingga mereka juga tidak memiliki minyak dan bahan bakar menjadi mahal bagi dunia,” kata Ardestani seperti dikutip CNN.

Target Eropa dan Teknologi Baru

Ketegangan juga meluas ke kawasan Eropa. Awal bulan ini, saluran Telegram yang berafiliasi dengan IRGC mengunggah citra satelit yang diklaim menunjukkan pesawat militer AS berada di Bandara Chania, Pulau Kreta, Yunani.

Meski keaslian gambar tersebut belum dapat diverifikasi, ancaman Iran untuk memperluas target di luar Timur Tengah dinilai meningkatkan risiko eskalasi lebih luas.

Selama perang sebelumnya, Iran disebut menunjukkan kemampuan rudal balistik jarak menengah hingga ribuan kilometer. Salah satu serangan yang disorot adalah dugaan peluncuran dua rudal ke pangkalan gabungan AS-Inggris di Diego Garcia, Samudra Hindia.

Peneliti senior The Washington Institute, Farzin Nadimi, mengatakan pangkalan udara AS di Inggris dan Jerman berpotensi menjadi target apabila Iran memutuskan meningkatkan eskalasi konflik.

Namun, menurut Nadimi, opsi tersebut kemungkinan hanya akan digunakan pada tingkat eskalasi tertinggi.

Selain itu, Iran juga diperkirakan mengembangkan teknologi baru berupa drone berbasis kecerdasan buatan (AI) yang mampu berkomunikasi satu sama lain, menyesuaikan jalur penerbangan, dan menghindari sistem pertahanan udara lawan.

“Mereka belum mendemonstrasikan kemampuan ini, tetapi mereka telah membahas pengembangan teknologi ini di masa lalu,” kata Nadimi.

Iran juga disebut terus meningkatkan kemampuan rudal jelajah supersonik dan teknologi pengacauan komunikasi satelit untuk memperbesar peluang menembus sistem pertahanan lawan. []

Apa reaksi Anda?

Komentari!

Artikel Terkait

Load More Posts Loading...No more posts.