TERBARU

HukumKriminal

Ledakan di Masjid SMA 72 Diduga Ulah JAD, Aksi Balas Dendam

ORINEWS.id – Ledakan yang terjadi di masjid SMA 72 Jakarta diduga kuat dilakukan oleh kelompok teror Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang berafiliasi dengan ISIS. Aksi tersebut disebut sebagai bentuk balas dendam atas sejumlah penembakan terhadap masjid di luar negeri. Dalam ideologi takfiri seperti ISIS, masjid di Indonesia dianggap belum sepenuhnya Islam.

Pengamat terorisme Al Chaidar menduga keras bahwa ledakan di SMA 72 merupakan perbuatan kelompok JAD.

Advertisements
Ad 147

“Karena ISIS diketahui mempersiapkan balas dendam kepada pelaku penembakan masjid di Kanada Brenton Tarrant,” paparnya, dikutip dari Jawapos, Jumat (7/11/2025).

Kecurigaan itu diperkuat dengan temuan senjata rakitan di lokasi kejadian, yang bertuliskan tiga nama pelaku penembakan masjid: Brenton Tarrant pelaku di Selandia Baru, Alexandre Bissonnette pelaku di Kanada, dan Luca Traini di Italia.

Baca Juga
Densus 88 Tangkap Dua ASN di Aceh, Diduga Terlibat Terorisme
DONASI TAHAP KEDUA

“Setahu saya mereka memang melakukan persiapan,” ujarnya.

Menurut Al Chaidar, persiapan yang dilakukan JAD cukup matang sehingga ledakan bisa terjadi seperti yang berlangsung di SMA 72. Ia menjelaskan, meski kemampuan JAD dalam merakit bom masih terbatas, namun ledakan tersebut menunjukkan adanya peningkatan kapasitas kelompok itu.

“Namun, dengan ledakan semacam ini, maka persiapannya matang,” urainya.

Terkait alasan JAD menyerang masjid, Al Chaidar mengatakan hal itu tidak lepas dari ideologi takfiri yang dianut kelompok tersebut.

“Walau masyarakat umum menganggap aneh, namun inilah karakter ideologi takfiri. ISIS menganggap masjid-masjid di Indonesia ini belum sepenuhnya Islam. Makanya bisa diserang, dan menjadi tindakan balasan,” terangnya.

Ia menambahkan bahwa kekuatan JAD di Indonesia sempat melemah dalam beberapa tahun terakhir, dengan kemampuan melakukan serangan yang menurun drastis. Salah satu indikasi kelemahan itu adalah ledakan di Polres Surakarta beberapa waktu lalu yang hanya menewaskan pelaku.

“Kini kemungkinan JAD sudah mulai sedikit lebih kuat,” ujarnya.

Baca Juga
Kirab Merah Putih PNIB, Wujudkan Aksi Nyata Lawan Intoleransi, Khilafah, Radikalisme, Terorisme, dan Narkoba

Karena itu, Al Chaidar menilai aparat kepolisian, khususnya Densus 88 Antiteror, perlu meningkatkan kewaspadaan dan kembali melakukan pemetaan terhadap jaringan JAD yang mulai aktif lagi.

“Mau tidak mau harus kembali mendeteksi siapa saja anggota JAD,” paparnya.

Ia menduga, ada kemungkinan sel tidur JAD yang kini kembali aktif dan harus segera dipastikan pergerakannya sebelum melakukan aksi lanjutan.

“Apalagi Densus 88 AT sudah bisa menangkap sebelum aksi terjadi,” ujarnya.

Di akhir keterangannya, Al Chaidar menekankan pentingnya memperlemah kekuatan JAD secara berkelanjutan agar mereka tidak lagi mampu melakukan aksi teror di Indonesia.

“Jangan lengah mencegah aksi terorisme,” tegasnya. []

Komentari!

Artikel Terkait

Load More Posts Loading...No more posts.
Enable Notifications OK No thanks