ORINEWS.id – Langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang membuka peluang penjualan chip kecerdasan buatan (AI) Nvidia ke China menuai kecaman keras dari kalangan politik dan pakar teknologi.
Kebijakan tersebut dinilai bisa menjadi bumerang besar bagi dominasi AI Amerika Serikat dan justru menguntungkan militer China.
Ketua House Select Committee on China, John Moolenaar, menyebut rencana penjualan chip itu setara dengan memberikan uranium tingkat senjata kepada Iran.
“Kita tidak bisa menjual chip AI paling canggih kepada musuh utama negara kita,” tegas Moolenaar, dikutip dari Reuters, Kamis (30 Oktober 2025).
Pernyataan itu muncul setelah Trump memberi sinyal bahwa Nvidia bisa menjual versi lebih rendah dari chip Blackwell ke China. Chip AI tersebut merupakan salah satu teknologi paling kuat di dunia dan menjadi tulang punggung keunggulan Amerika di bidang komputasi kecerdasan buatan.
Kekhawatiran terhadap Keamanan dan Keunggulan Teknologi
Para pakar perdagangan AS memperingatkan bahwa langkah membuka ekspor chip ini dapat meruntuhkan pembatasan yang diberlakukan sejak 2022. Pembatasan tersebut dirancang agar militer China tidak diuntungkan oleh teknologi Amerika serta memperlambat laju pengembangan AI di negeri tersebut.
“Jika kita mengekspor versi B30A, maka keunggulan utama AS terhadap China di bidang AI akan menyusut drastis,” ujar Tim Fist, Direktur Kebijakan Teknologi Baru di Institute for Progress.
Menurut Fist, meski versi B30A disebut lebih lemah, chip itu sejatinya hanya berbeda dalam kemasan.
“China bisa membeli dua kali lipat dan mendapatkan hasil yang sama, kemungkinan dengan harga yang sama,” tambahnya.
Analisis terbaru yang diterbitkan Fist dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa jika AS menahan ekspor chip AI ke China tahun depan, Amerika akan tetap memiliki kekuatan komputasi AI 30 kali lipat dibandingkan China. Namun, jika ekspor chip versi downgrade diizinkan, China bisa menyalip AS pada 2026.
Tekanan Politik dari Dua Partai
Kritik terhadap kebijakan Trump tidak hanya datang dari Partai Republik. Pemimpin Mayoritas Senat dari Partai Demokrat, Chuck Schumer, bersama 11 senator Demokrat lainnya, turut mendesak agar pembatasan ekspor chip AI dan teknologi tinggi AS tidak dicabut demi kesepakatan dagang dengan Beijing.
“Chip ini seharusnya mendukung perusahaan AS yang membangun dominasi AI di masa depan, bukan memperkuat militer China,” kata Moolenaar.
Langkah Trump ini memunculkan kekhawatiran bahwa Amerika Serikat dapat kehilangan keunggulan strategis dalam perlombaan AI global jika kebijakan ekspor chip AI dilonggarkan tanpa pengawasan ketat. []

































