TERBARU

InternasionalNews

Trump Minta Ukraina Hentikan Perang dengan Rusia, Ini Alasannya

ORINEWS.id – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meminta Ukraina untuk menghentikan pertempuran di garis pertempuran saat ini dan menilai situasi teritorial sebagai dasar negosiasi di masa mendatang. Pernyataan ini disampaikan Trump sekembalinya dari pertemuan dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy pada Jumat (17/10) lalu.

Dalam keterangannya kepada wartawan di Washington, Trump membantah laporan yang menyebut ia mendesak Ukraina menyerahkan seluruh wilayah Donbas kepada Rusia.

“Tidak, kami tidak pernah membahasnya. Yang seharusnya mereka lakukan hanyalah berhenti di garis di mana mereka berada — garis pertempuran,” ujar Trump, mengutip Anadolu, Senin, 20 Oktober 2025.

Trump menambahkan, di wilayah Donbas “78 persen wilayahnya telah direbut oleh Rusia,” dan Ukraina dapat menegosiasikan “sesuatu di kemudian hari,” namun penghentian pertempuran menjadi prioritas utama.

Wilayah Donbas, yang meliputi Donetsk dan Luhansk, telah menjadi fokus konflik sejak 2014, ketika separatis yang didukung Rusia mendeklarasikan republik pemisah pasca aneksasi Krimea oleh Moskow. Pasukan Rusia kemudian memperluas kendali atas sebagian besar wilayah tersebut setelah melancarkan “operasi khusus” pada Februari 2022.

Baca Juga
Ormas Hercules Makin Berani, Minta Prabowo Turun Tangan Kalau Memang Presidennya Orang Miskin

Selain itu, Trump menyinggung proyek pembangunan terowongan bawah Selat Bering yang digagas Rusia untuk menghubungkan negaranya dengan AS melalui transportasi kereta api. Klaim ini disampaikan oleh Utusan Presiden Rusia untuk Urusan Ekonomi, Kirill Dmitriev, yang juga memimpin Dana Investasi Langsung Rusia (RDIF).

“Diskusi mengenai terowongan dimulai,” ujar Dmitriev melalui platform media sosial X.

Ia menyebut pembangunan terowongan modern dapat memakan waktu kurang dari delapan tahun dengan biaya kurang dari USD 8 miliar, berkat teknologi milik The Boring Company yang dimiliki miliarder Elon Musk. Angka ini jauh lebih rendah dibanding perkiraan tradisional sebesar USD 65 miliar.

Proyek yang Dmitriev juluki “Terowongan Putin-Trump” ini diyakini memiliki potensi untuk pengembangan sumber daya bersama, penciptaan lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi. Ia menambahkan RDIF memiliki pengalaman membangun jembatan kereta api lintas batas, termasuk antara Rusia dan China. []

Komentari!

Artikel Terkait

Load More Posts Loading...No more posts.
Enable Notifications OK No thanks