*Oleh: Awalin Ridha, S.Pd
Di sebuah peternakan bernama Manor Farm, hewan-hewan hidup dalam tekanan. Setiap hari mereka bekerja tanpa henti, namun hasilnya hanya dinikmati oleh sang pemilik yang lalai dan kejam, Tuan Jones. Hingga suatu malam, seekor babi tua bijak bernama Old Major menyulut harapan tentang dunia tanpa manusia, di mana semua hewan hidup setara, merdeka, dan bahagia. Mimpi itu menjadi nyala pertama dari sebuah revolusi.
Setelah kematian Old Major, dua babi cerdas—Snowball dan Napoleon—memimpin gerakan. Bersama hewan-hewan lainnya, mereka bangkit melawan dan berhasil mengusir manusia dari peternakan. Tempat itu pun diberi nama baru: Animal Farm, lambang dari sistem baru yang dijanjikan adil, bebas, dan dikelola oleh hewan sendiri. Mereka menetapkan tujuh hukum dasar yang ditulis di dinding kandang, dan yang utama di antaranya berbunyi:
“Semua hewan setara.”
Awal revolusi dipenuhi semangat persatuan dan cita-cita bersama. Semua bekerja bahu-membahu demi kesejahteraan kolektif. Snowball bahkan merancang pembangunan kincir angin untuk meringankan beban kerja. Namun, diam-diam benih kekuasaan mulai tumbuh dalam senyap.
Napoleon menolak rencana Snowball. Secara rahasia, ia melatih anjing-anjing kecil menjadi pasukan pribadi, lalu menggunakannya untuk mengusir Snowball dan mengambil alih kekuasaan secara tunggal.
Sejak saat itu, satu per satu nilai revolusi dikhianati oleh pemimpinnya sendiri. Para babi mulai menikmati hak istimewa: mereka tidur di ranjang, minum susu, memakan apel setiap hari, bahkan menjalin kerja sama dengan manusia yang dahulu mereka kecam. Sementara itu, hewan-hewan lain semakin lelah dan kelaparan. Namun mereka tetap diam, karena terus diyakinkan bahwa “Napoleon selalu benar.”
Salah satu hewan paling setia adalah Boxer, si kuda pekerja keras. Dalam diam, ia hanya tahu dua prinsip hidup: bekerja lebih keras dan percaya pada pemimpin. Tapi saat tubuhnya tak lagi kuat dan ia jatuh sakit, bukannya dirawat, Boxer malah dijual ke tukang jagal. Hewan-hewan hanya bisa menatap nanar, tak kuasa melawan. Di titik itulah, keraguan mulai tumbuh—apakah ini yang dulu mereka perjuangkan?
Peraturan yang dulunya sakral kini diam-diam diubah. Tulisan “Semua hewan setara” di dinding berubah menjadi:
“Semua hewan setara, tetapi sebagian hewan lebih setara dari yang lain.”
Pada akhirnya, para babi berdiri tegak seperti manusia. Mereka mengenakan pakaian, tertawa, dan bersulang bersama manusia. Hewan-hewan lain mengintip dari luar jendela, mencoba mengenali wajah-wajah di dalam ruangan, dan menyadari dengan getir:
“Sudah mustahil membedakan mana babi dan mana manusia.”
Animal Farm lahir dari kekecewaan George Orwell terhadap pengkhianatan revolusi. Ditulis pada tahun 1945, novel ini merupakan sindiran tajam terhadap totalitarianisme Uni Soviet di bawah Stalin. Orwell, yang awalnya seorang simpatisan sosialisme, menyaksikan bagaimana semangat kesetaraan berubah menjadi kekuasaan mutlak—dan bagaimana rakyat yang dulunya dijanjikan kebebasan justru kembali tertindas.
Melalui fabel tentang hewan-hewan di peternakan, ia menyampaikan kritiknya dengan cara yang sederhana namun menghantam: bahwa revolusi yang tak dijaga nilainya akan melahirkan penguasa yang tak kalah zalim dari yang dulu digulingkan.
Meski ditulis puluhan tahun lalu, Animal Farm tetap relevan hingga hari ini. Ceritanya tidak hanya menggambarkan sejarah Soviet, tetapi juga mencerminkan siklus kekuasaan di banyak tempat—seperti di sebuah negara, organisasi, lembaga, bahkan komunitas terkecil sekalipun. Di mana pun kekuasaan berjalan tanpa pengawasan, di situlah pengkhianatan terhadap idealisme bisa tumbuh. Dan sering kali, yang menjadi korban bukanlah para pemimpin, tetapi mereka yang paling setia, paling jujur, dan paling diam.
Maka pertanyaannya: apakah kita benar-benar belajar dari sejarah, atau hanya mengganti nama penindas dan menonton ulang cerita yang sama? Bila Animal Farm adalah cermin, maka yang paling mengerikan bukan hanya wajah babi yang mirip manusia, tetapi ketika kita menyadari bahwa kita berdiri bersama hewan-hewan lain yang menatap jendela kekuasaan—dan memilih untuk tetap diam.
Penulis adalah Pemerhati Sosial dan Politik






























