ORINEWS.id – Penjajah Israel kembali menyerang armada kemanusiaan internasional yang hendak menuju Jalur Gaza, Selasa, 8 Oktober 2025. Serangan terjadi di perairan internasional sekitar 120 mil laut atau 220 kilometer dari Gaza terhadap sembilan kapal sipil yang membawa bantuan kemanusiaan.
Armada tersebut merupakan bagian dari kampanye Global Sumud Flotilla (GSF) yang digelar Koalisi Armada Kebebasan (Freedom Flotilla Coalition / FFC) dan Thousand Madleens to Gaza (TMTG). Kapal-kapal itu mengangkut dokter, jurnalis, pejabat terpilih, serta bantuan medis dan nutrisi senilai lebih dari US$110 ribu.
Dalam waktu satu jam, sembilan kapal dilaporkan dibajak oleh pasukan Israel. Kapal-kapal itu antara lain Abd Elkarim Eid, Alaa Al-Najar, Anas Al-Sharif, Conscience, Gaza Sunbird, Leila Khaled, Milad, Soul of My Soul, dan Um Saad. Kapal Conscience menjadi yang terakhir diserbu setelah sempat dialihkan ke arah pantai Mesir.
Penyelenggara menegaskan seluruh kapal dibajak secara ilegal di perairan internasional.
Israel Sebut Upaya “Sia-sia”
Kementerian Luar Negeri Israel membenarkan aksi intersepsi tersebut. Dalam pernyataannya, Israel menyebut perjalanan armada itu sebagai “upaya sia-sia untuk menembus blokade laut yang sah dan memasuki zona pertempuran.”
“Seluruh kapal dan penumpangnya telah dipindahkan ke pelabuhan Israel,” kata Kementerian Luar Negeri Israel dalam pernyataan di media sosial. Pemerintah Israel juga mengklaim seluruh penumpang dalam kondisi sehat dan “akan segera dideportasi”.
Kecaman dari Penyelenggara
Koalisi Armada Kebebasan (FFC) dan Thousand Madleens to Gaza mengecam keras tindakan tersebut. Mereka menilai Israel telah melanggar hukum internasional dan perintah Mahkamah Internasional (ICJ) yang mengharuskan akses kemanusiaan tanpa hambatan ke Gaza.
“Israel tidak memiliki wewenang hukum untuk menahan sukarelawan internasional di atas kapal-kapal ini,” kata David Heap, anggota Canadian Boat to Gaza sekaligus Komite Pengarah FFC. “Penahanan mereka sewenang-wenang, melanggar hukum, dan harus segera dihentikan.”
Koalisi itu menambahkan, pembajakan ini mengikuti pola serangan sebelumnya terhadap kapal GSF Handala dan Madleen, serta serangan drone Israel terhadap kapal Conscience di perairan Eropa yang menyebabkan kerusakan parah.
“Serangan berulang terhadap warga sipil tak bersenjata ini menunjukkan eskalasi yang disengaja oleh Israel dan kegagalan total pemerintah dunia dalam menegakkan hukum internasional,” tulis pernyataan bersama FFC dan TMTG.
Upaya Kemanusiaan yang Terus Dihalang
Kampanye Global Sumud Flotilla merupakan bagian dari upaya internasional untuk menentang pengepungan Israel di Gaza dan menyalurkan bantuan langsung ke wilayah tersebut. Sejak Mavi Marmara pada 2010 hingga Armada Global Sumud awal Oktober 2025, misi-misi kemanusiaan kerap menghadapi serangan militer Israel di laut.
Meski demikian, para aktivis tetap melanjutkan upaya mereka. “Kami akan terus berlayar sampai blokade ini berakhir,” ujar salah satu penyelenggara dalam pernyataan terpisah.
Serangan terbaru ini terjadi di tengah krisis kemanusiaan akut di Gaza. Laporan lembaga bantuan internasional menyebut ratusan ribu warga menghadapi kelaparan ekstrem akibat blokade yang membatasi masuknya makanan, obat-obatan, dan pasokan penting lainnya. []































