ORINEWS.id – Jajak pendapat terbaru Washington Post menunjukkan meningkatnya kekecewaan komunitas Yahudi Amerika terhadap kepemimpinan dan tindakan Israel di Gaza. Meski ikatan emosional dan budaya tetap kuat, banyak orang Yahudi Amerika kini menyuarakan kekhawatiran serius terkait dugaan kejahatan perang, bahkan tuduhan genosida.
Hasil survei mengungkapkan, 61 persen orang Yahudi Amerika percaya Israel telah melakukan kejahatan perang, sementara 39 persen menyatakan Israel terlibat dalam genosida terhadap warga Palestina. Dukungan dan penolakan terhadap operasi militer Israel di Gaza relatif seimbang, dengan 46 persen menyetujui dan 48 persen tidak setuju.
Kritik terhadap kepemimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu juga meningkat. Sebanyak 68 persen responden menilai kepemimpinannya negatif, dengan 48 persen menyebutnya “buruk” — angka yang naik signifikan dibanding jajak pendapat serupa lima tahun lalu.
Dari Dukungan Awal ke Kekecewaan
Beberapa responden menyatakan awalnya mendukung respons militer Israel karena serangan Hamas dianggap berat, namun kemudian kecewa akibat meningkatnya penderitaan warga sipil dan minimnya kemajuan.
“Awalnya … dalam arti tertentu [Israel] tidak punya pilihan … Tetapi itu sama sekali tidak membenarkan apa yang terjadi sekarang,” kata Julia Seidman, 42, dari Issaquah, Washington.
Perbedaan Berdasarkan Usia, Politik, dan Pendidikan
Pergeseran generasi terlihat jelas: hanya 36 persen Yahudi berusia 18–34 tahun merasa terikat secara emosional dengan Israel, dibanding 68 persen pada kelompok di atas 65 tahun.
Kelompok muda juga lebih cenderung menyebut tindakan Israel di Gaza sebagai genosida, dengan setengah dari mereka setuju pada label tersebut.
Opini juga terbelah secara partisan: lebih dari 80 persen pendukung Yahudi Partai Republik mendukung tindakan Israel, sementara mayoritas pendukung Yahudi Partai Demokrat menentangnya.
Latar belakang pendidikan turut memengaruhi pandangan; 54 persen yang berpendidikan perguruan tinggi atau kurang mendukung operasi militer, dibanding 36 persen lulusan pascasarjana.
AS dan Tanggung Jawab Kemanusiaan
Mayoritas responden (61 persen) menilai Amerika Serikat bertanggung jawab atas situasi di Gaza. Sekitar 59 persen menyatakan Israel belum cukup membuka akses bantuan pangan, sementara hanya 30 persen menilai Israel sudah berusaha memadai.
Mengenai bantuan militer AS ke Israel, 60 persen masih mendukung kelanjutannya. Namun, ketika perang Gaza dipisahkan dari hubungan AS–Israel secara keseluruhan, 47 persen menilai tingkat dukungan saat ini sudah tepat, 32 persen mengatakan terlalu tinggi, dan 20 persen merasa kurang. Dukungan berlebihan AS terhadap Israel tercatat meningkat selama dekade terakhir.
Max Parke, insinyur perangkat lunak dari Brooklyn, menyatakan, “Prinsip-prinsip Yahudi mengajarkan kita menghormati kemanusiaan setiap orang. Di Israel, kepentingan Yahudi diutamakan, tanpa mengikuti prinsip kemanusiaan yang seharusnya.”
Perubahan Sikap Demokrat dan Debat Genosida
Tokoh Yahudi dari Partai Demokrat semakin vokal mengkritik tindakan Israel di Gaza. Pada Juli lalu, Senat AS memberikan suara untuk dua resolusi yang bertujuan menghentikan penjualan senjata ke Israel; meski gagal, sebagian besar Demokrat mendukungnya.
Pemimpin Minoritas Senat Charles Schumer, bersama Senator Adam Schiff dan Brian Schatz, mendorong perluasan bantuan kemanusiaan ke Gaza. Schumer bahkan menyerukan Netanyahu mengundurkan diri dan mengadakan pemilu baru.
Sementara itu, Presiden Donald Trump terus mendukung Netanyahu dan operasi militer Israel, dengan pesan yang lebih menarik bagi pendukung evangelis dibanding Yahudi Amerika.
Salah satu temuan menonjol dalam jajak pendapat adalah penerimaan meningkat terhadap pembingkaian genosida.
Responden diberikan definisi genosida dari PBB dan ditanya apakah Israel melakukan tindakan semacam itu di Gaza. Hasilnya: 39 persen menjawab “ya”, 51 persen “tidak”, dan 10 persen tidak berpendapat. Temuan ini sejalan dengan laporan panel PBB yang menyatakan tindakan Israel mungkin termasuk genosida.
Jajak pendapat Washington Post dilakukan pada 2–9 September dengan 815 orang Yahudi Amerika sebagai sampel melalui Panel Opini SSRS, margin kesalahan ±4,7 persen, mencakup Yahudi religius maupun sekuler berdasarkan agama, etnis, atau budaya. []































