ORINEWS.id – Parlemen Italia menyetujui mosi untuk mengakui bersyarat Negara Palestina. Keputusan ini muncul di tengah gelombang protes luas di berbagai kota yang mengecam pembajakan armada bantuan Global Sumud Flotilla oleh Israel.
Mengutip Al Mayadeen, Sabtu (4/10/2025), mosi tersebut menetapkan dua syarat utama sebelum pengakuan Palestina dapat dilakukan: pembebasan seluruh tawanan yang ditahan oleh Hamas, serta jaminan bahwa kelompok tersebut tidak akan ikut serta dalam pemerintahan Palestina di masa mendatang.
Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menyebut langkah ini sebagai bentuk gestur politik untuk merespons sentimen pro-Palestina yang semakin kuat di dalam negeri, tanpa mengurangi komitmennya terhadap dukungan bagi Israel.
Meloni, yang selama ini menempatkan dirinya sebagai sekutu dekat Israel, kini menghadapi tekanan politik setelah serangkaian aksi protes besar-besaran pecah di Roma, Milan, Bologna, Firenze, Napoli, Turin, hingga Sisilia. Aksi itu dipicu oleh penahanan ratusan relawan internasional, termasuk warga Italia, pasca serangan terhadap armada bantuan menuju Gaza.
Puluhan ribu orang turun ke jalan sejak pekan ini. Di Roma, sekitar 20 ribu demonstran, sebagian besar mahasiswa, mengibarkan bendera Palestina dan meneriakkan “Bebaskan Palestina!” Mereka berbaris dari Colosseum menuju Stasiun Termini sambil mengusung spanduk bertuliskan: “Melawan Genosida. Mari kita blokir semuanya.”
Di Milan, penyelenggara memperkirakan 50 ribu orang ikut serta dalam aksi, dengan laporan adanya pembakaran bendera Amerika Serikat. Sementara di Bologna lebih dari 10 ribu orang berunjuk rasa, dan ribuan lainnya di kota besar lain.
Protes ini juga diikuti oleh aksi mogok kerja yang digalang serikat pekerja. Unione Sindacale di Base (USB) Italia telah lebih dulu mendeklarasikan pemogokan umum nasional pada 1 Oktober, sedangkan CGIL, serikat pekerja terbesar di negeri itu, menyatakan akan melakukan aksi serupa bila serangan terhadap armada kemanusiaan ke Gaza berlanjut. []

































