ORINEWS.id – Warga Jalur Gaza menegaskan tidak akan meninggalkan tanah dan rumah mereka meski menghadapi serangan tanpa henti, kehancuran, hingga kelaparan. Dalam kondisi sulit itu, mereka tetap berpegang teguh untuk bertahan di wilayah yang sudah lama mereka diami.
“Kami tidak akan pergi kecuali ke langit..,” kata salah seorang warga Gaza, Palestina, dikutip dari akun Telegram @RisalahAmar, Jumat, 29 Agustus 2025.
Penolakan untuk mengungsi keluar dari Gaza mencerminkan tekad warga dalam mempertahankan hak atas tanah mereka. Meski situasi di wilayah tersebut terus memburuk akibat blokade dan serangan militer, masyarakat Gaza menolak meninggalkan kampung halaman yang sudah mereka anggap sebagai bagian dari identitas dan sejarah.
Sejak perang Israel–Hamas pecah pada Oktober 2023, Jalur Gaza menghadapi kehancuran besar-besaran. Ribuan warga sipil tewas, sementara infrastruktur vital seperti rumah sakit, sekolah, dan pusat distribusi bantuan hancur akibat serangan udara dan darat Israel.
Hingga Kamis, 28 Agustus 2025, Kementerian Kesehatan Palestina melaporkan jumlah korban agresi Israel meningkat menjadi 62.966 orang tewas dan 159.266 lainnya luka-luka sejak 7 Oktober 2023.
Direktur Kantor Media UNRWA di Gaza yang dikabarkan melalui akun telegram @RisalahAmar pada Kamis, mengatakan bantuan kemanusiaan masih sulit masuk ke wilayah tersebut.
“Kami masih dilarang memasukkan bantuan ke Gaza. Situasi di Jalur Gaza masih sangat buruk. Israel memberlakukan pembatasan pada kerja organisasi internasional dan kami perlu menekan mereka. Tidak ada zona aman di Jalur Gaza,” ujarnya.[]
































