ORINEWS.id – Model kecerdasan buatan (AI) berbasis Claude memprediksi Spanyol akan menjadi juara Piala Dunia 2026 setelah mengalahkan Argentina di partai final. Prediksi tersebut dibuat berdasarkan simulasi sebanyak 50 ribu turnamen yang memanfaatkan data pertandingan sepak bola internasional selama lebih dari satu abad.
Dikutip dari Medium, Kamis, 16 Juli 2026, prediksi tersebut disusun oleh Divyesh Vekariya, seorang senior iOS engineer sekaligus penggemar teknologi. Ia mengembangkan sistem prediksi menggunakan Claude sejak fase penyisihan grup Piala Dunia 2026.
Dalam tulisannya, Vekariya menjelaskan bahwa ia meminta Claude membangun sistem peringkat seluruh peserta Piala Dunia berdasarkan data historis, kemudian mengujinya terhadap hasil tiga edisi Piala Dunia sebelumnya sebelum menjalankan simulasi hingga babak final.
“Saya meminta Claude untuk membuat sesuatu yang dapat diperbarui sesuai dengan data tersebut: sebuah sistem peringkat nyata untuk semua 48 tim, yang disesuaikan dengan riwayat pertandingan sebenarnya, diuji terhadap tiga Piala Dunia terakhir, dan dijalankan sebagai simulasi Monte Carlo hingga akhir babak penyisihan grup dan seluruh babak gugur 32 tim,” tulis Vekariya.
Menurut dia, Claude mengumpulkan data historis, membangun sistem peringkat, memvalidasi model, kemudian menjalankan simulasi sebanyak 50 ribu kali untuk menghasilkan probabilitas setiap tim meraih gelar juara.
Vekariya mengatakan tugasnya hanya menentukan rancangan sistem, mengevaluasi hasil di setiap tahap, dan memutuskan apakah model yang dihasilkan sudah cukup layak untuk dipercaya.
Model tersebut menggunakan lebih dari 49 ribu pertandingan internasional resmi sepak bola putra sejak 1872, meliputi Piala Dunia, pertandingan kualifikasi, kejuaraan antarbenua, hingga laga persahabatan.
Setiap hasil pertandingan digunakan untuk memperbarui peringkat tim berdasarkan sistem Elo, dengan mempertimbangkan tingkat kejutan hasil pertandingan, selisih gol, serta tingkat kepentingan laga. Pertandingan Piala Dunia memiliki bobot lebih besar dibandingkan laga persahabatan.
Berdasarkan hasil pemeringkatan, Spanyol dan Argentina berada di posisi teratas. Di bawah keduanya terdapat Prancis, Inggris, dan Portugal.
Sebelum digunakan untuk memproyeksikan Piala Dunia 2026, model tersebut lebih dulu diuji menggunakan data Piala Dunia 2014, 2018, dan 2022.
Hasil pengujian menunjukkan model mampu memprediksi hasil pertandingan dengan tingkat akurasi 62,5 persen pada Piala Dunia 2014, 54,7 persen pada edisi 2018, dan 46,9 persen pada 2022. Secara keseluruhan, model berhasil memprediksi 105 dari 192 pertandingan pada tiga edisi tersebut atau sekitar 55 persen.
Dari hasil simulasi 50 ribu turnamen, Spanyol muncul sebagai juara dengan probabilitas tertinggi. Menurut Vekariya, sekitar satu dari setiap 3,4 simulasi berakhir dengan Spanyol mengangkat trofi.
Argentina menempati posisi kedua sebagai kandidat juara, disusul Prancis. Inggris, Portugal, dan Jerman berada dalam kelompok pesaing berikutnya dengan peluang yang relatif berdekatan.
“Jika semua 50.000 turnamen digabungkan, final yang paling sering terjadi, yaitu sekitar satu dari setiap 11 simulasi, adalah Spanyol melawan Argentina. Ini adalah pasangan yang paling mungkin terjadi di panggung terbesar,” tulis Vekariya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa sejarah Piala Dunia menunjukkan tim yang paling difavoritkan sebelum turnamen tidak selalu mampu menjadi juara. Karena itu, hasil simulasi tetap merupakan proyeksi statistik yang belum tentu terjadi di lapangan.
Final Piala Dunia 2026 dijadwalkan berlangsung pada 19 Juli 2026.[]








































































