ORINEWS.id – Gelombang panas ekstrem yang melanda Jepang menyebabkan ribuan warga mengalami sengatan panas atau heatstroke. Dalam sepekan, sebanyak 4.580 orang dilaporkan harus dilarikan ke rumah sakit, atau meningkat hampir tiga kali lipat dibandingkan pekan sebelumnya.
Data tersebut disampaikan Badan Penanggulangan Kebakaran dan Bencana Jepang (Japan’s Fire and Disaster Management Agency) yang mencatat jumlah pasien heatstroke selama periode 6 hingga 12 Juli 2026.
Otoritas setempat mengaitkan lonjakan kasus dengan suhu udara yang terus meningkat setelah berakhirnya musim hujan di sejumlah wilayah Jepang. Masyarakat pun diminta meningkatkan kewaspadaan dengan menjaga asupan cairan dan menghindari paparan panas berlebihan.
Dikutip dari NHK Japan, kondisi cuaca ekstrem tersebut juga menyebabkan tujuh orang meninggal dunia akibat heatstroke.
Selain korban meninggal, sebanyak 1.866 orang harus menjalani perawatan di rumah sakit karena mengalami gejala sedang hingga berat. Sementara itu, 2.652 pasien lainnya dilaporkan hanya mengalami gejala ringan.
Berdasarkan data pemerintah setempat, Prefektur Oita mencatat jumlah korban meninggal terbanyak dengan tiga kasus. Adapun Prefektur Nagano, Shimane, Nagasaki, dan Okinawa masing-masing melaporkan satu kematian.
Kelompok lanjut usia menjadi yang paling rentan terdampak. Dari total pasien, sebanyak 2.827 orang atau lebih dari separuh berusia 65 tahun ke atas.
Sementara itu, kelompok usia 18 hingga 64 tahun mencatat 1.317 kasus, disusul kelompok usia 7 hingga 17 tahun sebanyak 403 kasus, serta 33 kasus pada anak berusia di bawah tujuh tahun.
Prefektur Fukuoka menjadi daerah dengan jumlah kasus heatstroke tertinggi, yakni 456 orang. Wilayah itu mengalami suhu udara hingga 35 derajat Celsius selama beberapa hari terakhir.
Tokyo berada di posisi kedua dengan 255 kasus, disusul Osaka yang mencatat 230 kasus.
Data otoritas juga menunjukkan sebagian besar pasien dievakuasi dari lingkungan tempat tinggal. Sebanyak 1.733 orang dilaporkan mengalami heatstroke di rumah atau kawasan permukiman.
Selain itu, 944 orang ditemukan mengalami kolaps di jalan, sedangkan 605 lainnya dievakuasi dari area terbuka seperti stadion dan tempat parkir.
Pemerintah Jepang mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga hidrasi, mengurangi aktivitas di bawah terik matahari, serta menggunakan pendingin ruangan, termasuk saat berada di dalam rumah, guna mengurangi risiko heatstroke.[]
















































































