ORINEWS.id – Ketegangan hubungan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah belum tercapainya kesepakatan damai antara kedua negara. Negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, memperingatkan Amerika Serikat akan menghadapi konsekuensi lebih besar jika perang kembali pecah.
“Angkatan bersenjata kami telah membangun kembali diri mereka sendiri selama periode gencatan senjata sedemikian rupa,” kata Ghalibaf seperti dilaporkan AFP, Sabtu (23/5/2026).
Ia menegaskan Iran siap memberikan perlawanan lebih keras apabila Presiden Donald Trump memutuskan melanjutkan konflik bersenjata.
“Sehingga jika Trump melakukan tindakan bodoh lainnya dan memulai kembali perang, itu pasti akan lebih menghancurkan dan pahit bagi Amerika Serikat daripada pada hari pertama perang,” ujar Ghalibaf.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Ghalibaf bertemu Kepala Angkatan Darat Pakistan, Asim Munir, di Teheran. Asim Munir disebut menjadi salah satu tokoh penting dalam upaya diplomatik untuk mendorong tercapainya kesepakatan damai.
Munir tiba di Teheran pada Jumat (22/5/2026) dan melakukan serangkaian pertemuan dengan pejabat Iran di tengah ancaman Presiden Trump untuk mengakhiri gencatan senjata yang telah menghentikan konflik sejak 8 April lalu.
Menurut Kementerian Luar Negeri Iran, Munir menggelar pembicaraan hingga larut malam dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi.
Kedua pihak membahas berbagai upaya diplomatik terbaru guna mencegah eskalasi lebih lanjut dan mengakhiri perang.
Situs resmi kepresidenan Iran juga merilis foto pertemuan Asim Munir dengan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, pada Sabtu.
Stasiun televisi pemerintah Iran, IRIB, menyebut pertemuan lanjutan antara Munir dan Abbas Araghchi diperkirakan berlangsung panjang dan membahas aspek hukum secara rinci.
Selain itu, kantor berita IRNA melaporkan Araghchi juga melakukan komunikasi diplomatik dengan para menteri luar negeri dari Turki, Irak, Qatar, dan Oman.
Dalam pembicaraan tersebut, Iran disebut terus mendorong berbagai inisiatif diplomatik guna mencegah peningkatan ketegangan di kawasan.
Oman selama ini dikenal sebagai mediator utama dalam pembicaraan antara Iran dan Amerika Serikat. Sementara Pakistan juga disebut memainkan peran mediasi di tengah konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Namun hingga kini, berbagai jalur diplomasi, termasuk pembicaraan langsung yang difasilitasi Islamabad bulan lalu, belum menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri konflik.
Pemerintah Iran menuduh Washington mengajukan tuntutan berlebihan dalam proses perundingan tersebut. []

































































