TERBARU

InternasionalNews

Mojtaba Khamenei Dilaporkan Tidak Sadarkan Diri, Jalani Perawatan Darurat di Qom

ORINEWS.id – Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, dilaporkan berada dalam kondisi tidak sadarkan diri dan menjalani perawatan medis darurat di kota Qom, Iran. Kondisi tersebut memicu spekulasi luas terkait arah kepemimpinan negara di tengah meningkatnya konflik dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Laporan mengenai kondisi Mojtaba, seperti dikutip dari The Times of India, Selasa (7/4/2026), berasal dari memo diplomatik yang disebut telah dilihat oleh media The Times serta didasarkan pada penilaian intelijen Amerika Serikat dan Israel.

Pemimpin Iran berusia 56 tahun itu disebut berada dalam kondisi “parah” dan “tidak dapat terlibat dalam pengambilan keputusan apa pun oleh rezim” di Teheran.

Memo diplomatik tersebut juga menyebut Mojtaba saat ini dirawat di Qom, dan menjadi pertama kalinya lokasi pemimpin tertinggi Iran itu diungkap ke publik. Laporan itu menambahkan bahwa badan intelijen sebenarnya telah mengetahui keberadaan Mojtaba sejak lama, namun tidak pernah mempublikasikannya.

Iran disebut telah mengakui bahwa Mojtaba terluka akibat serangan udara AS-Israel yang menewaskan ayahnya, mendiang Ayatollah Ali Khamenei, bersama sejumlah anggota keluarga dekat pada 28 Februari lalu.

Namun, pejabat Iran tetap menyatakan Mojtaba masih “memimpin” negara, meski ia tidak pernah muncul di hadapan publik sejak perang dimulai. Tidak ada video atau audio terverifikasi yang menunjukkan keberadaannya, selain pernyataan tertulis yang dibacakan televisi pemerintah dan klip yang disebut dihasilkan oleh kecerdasan buatan.

Minimnya komunikasi langsung itu memicu spekulasi bahwa Mojtaba mungkin tidak mampu menjalankan tugasnya. Kelompok oposisi bahkan mengklaim ia berada dalam kondisi koma di rumah sakit.

Sejumlah laporan lain yang belum terverifikasi menyebutkan adanya cedera serius, termasuk patah tulang dan luka pada wajah. Kondisi ini menimbulkan ketidakpastian terkait rantai komando di Iran, di mana pemimpin tertinggi memegang otoritas politik dan keagamaan tertinggi.

Situasi tersebut juga memunculkan pertanyaan mengenai peran Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), yang diduga semakin mengambil alih kendali pemerintahan, sehingga posisi Mojtaba berpotensi hanya menjadi simbol.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump turut menyinggung situasi ini dengan menyatakan bahwa dirinya berkomunikasi dengan pejabat Iran lainnya, bukan langsung dengan pemimpin tertinggi negara tersebut.

Ketidakpastian di puncak kepemimpinan Iran terjadi di tengah meningkatnya ketegangan. Trump sebelumnya berulang kali mengancam akan menyerang infrastruktur Iran, termasuk pembangkit listrik dan jembatan, serta menetapkan tenggat waktu terkait isu Selat Hormuz.

Iran sendiri telah menolak usulan gencatan senjata dari Amerika Serikat dan menegaskan tidak akan merespons tekanan dalam bentuk apa pun. []

Apa reaksi Anda?

Komentari!

Artikel Terkait

Load More Posts Loading...No more posts.