ORINEWS.id — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim bertanggung jawab atas serangan udara yang menghancurkan Jembatan B1 di Karaj, Iran. Pernyataan itu disampaikan melalui platform Truth Social, menyusul serangan yang dilaporkan terjadi pada Kamis (2/4/2026).
Jembatan tersebut merupakan salah satu infrastruktur utama yang menghubungkan Teheran dengan Karaj. Sejumlah laporan menyebutkan, serangan tersebut menyebabkan jembatan runtuh dan menimbulkan korban jiwa.
Dalam pernyataannya, Trump menyebut kekuatan militer AS belum sepenuhnya dikerahkan. Ia juga mengisyaratkan kemungkinan serangan lanjutan terhadap infrastruktur lain di Iran.
“Militer kita belum mulai menghancurkan apa yang tersisa di Iran,” tulis Trump.
Pernyataan itu memicu kekhawatiran akan meningkatnya eskalasi konflik di kawasan. Sejumlah laporan media lokal di Iran menyebutkan sedikitnya delapan orang tewas dan puluhan lainnya mengalami luka-luka akibat serangan tersebut.
Serangan terhadap infrastruktur sipil dinilai menandai perubahan dalam pola konflik, yang sebelumnya lebih banyak menyasar target militer. Pengamat menilai kondisi ini berpotensi memperluas dampak konflik terhadap masyarakat sipil.
Pemerintah Iran merespons keras serangan tersebut. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyebut tindakan itu sebagai pelanggaran serius dan mencerminkan kemerosotan moral.
“Setiap jembatan dan bangunan akan dibangun kembali lebih kuat. Yang tidak akan pernah pulih adalah kerusakan pada reputasi Amerika,” ujar Araqchi melalui pernyataan di media sosial.
Ia menegaskan bahwa serangan terhadap infrastruktur sipil tidak akan melemahkan tekad rakyat Iran.
Ketegangan antara AS dan Iran kembali meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Sejumlah pihak internasional kini mendorong upaya diplomasi untuk mencegah konflik meluas dan berdampak lebih besar terhadap stabilitas kawasan. []































































