ORINEWS.id – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menuduh Amerika Serikat menyerang fasilitas desalinasi air tawar di Pulau Qeshm, yang disebut mengganggu pasokan air bagi puluhan desa di wilayah tersebut.
Melalui unggahan di media sosial, Araghchi mengecam serangan tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran serius yang dapat menimbulkan konsekuensi.
“AS melakukan kejahatan yang terang-terangan dan putus asa dengan menyerang pabrik desalinasi air tawar di Pulau Qeshm,” tulis Araghchi. “Pasokan air di 30 desa terdampak.”
Ia menambahkan, penyerangan terhadap infrastruktur sipil merupakan langkah berbahaya yang dapat memicu dampak serius.
“Menyerang infrastruktur Iran adalah langkah berbahaya dengan konsekuensi serius. AS yang memulai preseden ini, bukan Iran,” tegasnya.
Pulau Qeshm yang terletak di Selat Hormuz diketahui sangat bergantung pada fasilitas desalinasi untuk mengubah air laut menjadi air minum. Fasilitas tersebut menjadi sumber utama pasokan air bersih bagi masyarakat setempat. Menurut pejabat Iran, pabrik itu memasok air bagi sekitar 30 desa di wilayah tersebut.
Sementara itu, Amerika Serikat menyatakan bahwa serangan terhadap Iran dilakukan untuk menahan “ancaman langsung” yang diklaim berasal dari Republik Islam tersebut. Namun sejumlah pakar hukum internasional menilai alasan yang dikemukakan Washington tidak cukup untuk membenarkan tindakan militer menurut hukum internasional.
Serangan yang dilaporkan terjadi pada 28 Februari itu disebut sebagai bagian dari operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang diklaim bertujuan membatasi kemampuan nuklir dan rudal Teheran. Serangan tersebut terjadi di tengah pembicaraan yang dimediasi antara Washington dan Teheran guna meredakan ketegangan melalui kemungkinan kesepakatan.
Serangan juga dilaporkan menargetkan sejumlah fasilitas pemerintah serta pimpinan senior Iran, termasuk Pemimpin Revolusi Iran Ali Khamenei.
Presiden AS saat itu, Donald Trump, kemudian menuntut Iran melakukan “penyerahan tanpa syarat”. Namun tuntutan tersebut secara tegas ditolak oleh pemerintah Iran.
Sebelumnya, Iran diketahui tengah terlibat dalam perundingan tidak langsung dengan Amerika Serikat dan menyatakan harapan untuk mencapai kesepakatan yang dapat menyelesaikan isu nuklir secara damai. Namun, ketika laporan menunjukkan kemungkinan tercapainya kesepakatan semakin dekat, serangan justru dilancarkan. []
















































































