TERBARU

Edukasi

Banjir Merusak Rumah dan Jiwa Anak-anak Aceh, Relawan MDMC Ungkap Fakta di Lapangan

ORINEWS.id — Bagi sebagian anak-anak di Aceh, hujan bukan lagi sekadar pertanda cuaca. Dalam sebuah podcast Diskor Muhammadiyah, relawan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Jawa Barat mengungkapkan suara hujan masih memicu rasa takut pada anak-anak yang terdampak banjir besar beberapa waktu lalu.

Cerita tersebut disampaikan oleh Ferry Johari, relawan MDMC Jawa Barat yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Kwartir Wilayah Hizbul Wathan Jawa Barat dan bertugas di wilayah kunci Sawang, Aceh Timur. Dalam podcast itu, Ferry menuturkan bahwa dampak banjir tidak hanya terlihat pada kerusakan fisik, tetapi juga meninggalkan trauma psikologis, terutama pada anak-anak.

“Setiap kali hujan turun, mereka masih merasa cemas dan takut banjir kembali datang. Anak-anak ini membutuhkan pendampingan dan trauma healing,” ujar Ferry.

Ia juga menggambarkan perbedaan kondisi antara wilayah kota dan desa. Menurutnya, kawasan perkotaan seperti Lhokseumawe relatif tidak terlalu terdampak, namun desa-desa di pelosok justru mengalami kerusakan yang lebih parah. Di wilayah Sawang saja, sekitar 80an rumah dilaporkan hilang akibat tersapu banjir.

Baca Juga
Dekan FKIP USK Syamsulrizal Maju sebagai Calon Rektor, Prioritaskan Pembenahan Internal Kampus

Dalam podcast tersebut, Ferry memaparkan sejumlah aksi kemanusiaan yang telah dilakukan MDMC Jawa Barat. Bekerja sama dengan Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Lazismu Jawa Barat, tim membangun hunian darurat bagi warga terdampak di wilayah Aceh Utara dan Bireuen. Selain itu, persoalan air bersih menjadi perhatian serius pascabanjir.

Hingga kini, tim MDMC Jawa Barat telah melakukan penyedotan sekitar 25 sumur warga di Aceh Utara agar kembali layak digunakan. Tim juga berencana melanjutkan kegiatan serupa di Kabupaten Bireuen. Seluruh kegiatan tersebut didukung oleh armada operasional dari MDMC Jawa Barat dan Lazismu Jawa Barat.

Ferry juga mengungkap tantangan geografis Aceh. Meski tampak berdekatan di peta, sejumlah lokasi terdampak hanya bisa dijangkau melalui perjalanan berjam-jam, sehingga membutuhkan kesiapan fisik dan manajemen waktu yang matang dari relawan.

Namun, di balik berbagai tantangan tersebut, Ferry menekankan satu hal yang paling membekas bagi para relawan, ketegaran masyarakat Aceh. Dalam kondisi serba terbatas, warga masih menunjukkan kepedulian dengan berbagi air minum dan makanan kepada relawan yang datang membantu.

“Kami salut. Walaupun mereka sekarang tidak punya apa-apa, mereka masih bisa berbagi dengan kami,” tuturnya.

Baca Juga
Polda Aceh: Polri Siap Amankan Duta-Duta Mudik Sampai Tujuan

Ia juga mengaku terkesan dengan ketaatan sosial dan religius masyarakat Aceh. Dalam podcast itu, Ferry menceritakan suasana yang benar-benar hening saat azan berkumandang, termasuk pada waktu Magrib, sebagai wujud ketaatan terhadap norma dan nilai yang hidup di tengah masyarakat.

Seluruh proses pemulihan, menurut Ferry, dilakukan bersama masyarakat setempat. Bagi MDMC Jawa Barat, bekerja berdampingan dengan warga bukan hanya mempercepat pemulihan pascabencana, tetapi juga menjadi cara untuk mengurangi rasa jenuh dan kesedihan akibat musibah.

Melalui cerita yang dibagikan dalam podcast tersebut, MDMC Jawa Barat menegaskan komitmennya untuk terus bersiaga dalam kondisi apa pun, baik dalam upaya kesiapsiagaan diri maupun penanganan bencana di berbagai wilayah. []

Komentari!

Artikel Terkait

Load More Posts Loading...No more posts.
Enable Notifications OK No thanks