ORINEWS.id – Banjir bandang yang melanda wilayah Kabupaten Bireuen beberapa waktu lalu meninggalkan kerusakan luas pada sektor pertanian. Ratusan hektare sawah tertutup endapan lumpur tebal hingga mengubah bentang lahan yang sebelumnya produktif menjadi hamparan menyerupai landasan pacu.
Kondisi tersebut membuat para petani tidak mampu membersihkan lahan secara mandiri. Lumpur yang mengendap terlalu tebal dan menyebar merata, menutup batas-batas sawah yang selama ini menjadi sumber penghidupan warga.
Ansari, petani asal Desa Kubu, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, tampak duduk termenung di dekat jembatan Pante Lhong yang putus ketika hendak menyeberang ke desanya. Ia mengaku sawah miliknya kini tak lagi bisa dikenali.
“Saya ada sawah di Desa Kubu, tapi sudah seperti lapangan terbang, lumpur semua dan tebal,” ujar Ansari, dikutip dari laman resmi distanbunaceh, Rabu (24/12/2025).
Menurut Ansari, ratusan hektare sawah di Desa Kubu tertutup lumpur. Kondisi serupa dialami petani di Desa Pante Baro, Teupin Raya, serta sejumlah desa lain di wilayah Peusangan Siblah Krueng. Endapan lumpur yang sangat tebal membuat pembersihan lahan secara manual nyaris mustahil dilakukan.
Sulit Ditandai
Selain tertutup lumpur, para petani juga kesulitan menandai kembali lokasi sawah masing-masing. Hanya sebagian kecil lahan yang berada dekat permukiman masih bisa dikenali karena adanya pohon kayu yang dijadikan penanda.
Namun, sawah yang berada di bagian tengah areal pertanian sudah sulit dibedakan satu sama lain. “Kalau menarik tali saja untuk melihat di mana sawah juga sulit ditandai,” keluh Ansari.
Kerusakan tidak hanya terjadi pada lahan pertanian. Ruas jalan dari Peusangan Siblah Krueng menuju Kutablang ikut terdampak. Jalan tersebut kini sulit dilalui akibat permukaannya tertutup lumpur tebal.
Data Kerusakan Pertanian
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Bireuen, Mulyadi, menyebut dampak banjir bandang menimbulkan kerusakan parah pada sektor pertanian. Berdasarkan data sementara, sekitar 2.014 hektare sawah tertimbun lumpur, sementara 1.060 hektare lainnya mengalami gagal panen.
“Banyak tanaman padi yang siap panen membusuk, ada yang sedang mengisi bulir juga rusak,” kata Mulyadi. “Kemudian ada yang baru menabur benih juga hancur,” ujarnya menambahkan.
Ia menjelaskan, proses pendataan masih terus berlangsung karena akses menuju sejumlah lokasi terdampak terhambat akibat jembatan yang putus dan kondisi jalan yang rusak. Dengan situasi tersebut, kerugian di sektor pertanian dipastikan sangat besar.
Mulyadi menegaskan, lahan pertanian yang tertimbun lumpur tidak mungkin dipulihkan oleh petani tanpa dukungan alat berat dan bantuan pemerintah. “Intinya, sektor pertanian rusak parah. Petani mengalami kerugian besar dan lahan pertanian tertimbun lumpur,” ujarnya.
Baca juga: Aceh Kembali Dilanda Hujan Lebat, BMKG Minta Warga Tingkatkan Kewaspadaan































