TERBARU

InternasionalNews

Liga Arab Ungkap “Perjanjian Rahasia” AS Lindungi Nuklir Israel

ORINEWS.id – Sekretaris Jenderal Liga Arab Ahmed Aboul Gheit mengungkapkan adanya “perjanjian rahasia” antara Amerika Serikat dan “Israel” yang berkaitan dengan perlindungan terhadap program senjata nuklir negara tersebut. Washington disebut sepakat untuk tidak mengungkapkan keberadaan atau kemampuan nuklir “Israel” dengan imbalan kerahasiaan permanen dari pihak Tel Aviv.

Dalam wawancara televisi dengan saluran Sada El-Balad Mesir, sebagaimana dikutip dari Al Mayadeen, Selasa (28/10/2025), Aboul Gheit menjelaskan, “Perjanjian tersebut menetapkan bahwa Israel berjanji untuk tidak pernah berbicara, berapa pun abad yang telah berlalu, tentang persenjataan nuklirnya, sementara Amerika, pada gilirannya, berjanji untuk tetap diam.”

Ia menuding Washington telah menipu negara-negara Arab, dengan mengingatkan pertemuan di Kairo dan Washington ketika pejabat AS mendesak Mesir meratifikasi Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dengan imbalan tekanan AS terhadap “Israel” agar melakukan hal yang sama. “Mesir menolak,” kata Aboul Gheit, menegaskan bahwa tekanan semacam itu “tidak pernah terwujud.”

Menurutnya, kebisuan global terkait senjata nuklir “Israel” yang tak dideklarasikan merupakan bagian dari perlindungan politik dan militer AS. Ia menggambarkan “Israel” sebagai entitas yang “dilindungi oleh kutub militer-politik dominan yang menguasai dunia sejak runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1990.”

Baca Juga
Youtube aja Nipu apalagi Suara Rakyat

Mantan Menteri Luar Negeri Mesir itu juga menyinggung kebijakan Kairo yang tidak menandatangani konvensi senjata kimia atau biologi. Mesir, katanya, “tidak melihat perlunya pencegah nuklir” karena “kerugiannya jauh lebih besar daripada potensi manfaatnya.”

Aboul Gheit menambahkan bahwa diplomasi Mesir konsisten mendorong kawasan Timur Tengah bebas dari senjata pemusnah massal. Ia menilai inspeksi internasional terhadap fasilitas nuklir “Israel” akan menjadi hal yang tak terelakkan. Ia memperingatkan bahwa situasi tersebut dapat memicu krisis regional yang serius dan memaksa Washington meninjau kembali kebijakan perlindungan terhadap “Israel”. “Israel bahkan tidak dapat menggunakan senjata nuklirnya selama perang 1973,” ujarnya.

Fasilitas Dimona dan Dugaan Peningkatan Program Nuklir

Isu ini kembali mengemuka setelah citra satelit menunjukkan peningkatan aktivitas di Pusat Penelitian Nuklir Shimon Peres Negev di Dimona. Laporan The Independent pada September lalu menyebutkan, gambar yang diambil pada 5 Juli oleh Planet Labs PBC menunjukkan adanya konstruksi besar, termasuk struktur bawah tanah bertingkat dan dinding beton tebal yang diduga terkait dengan pengembangan fasilitas nuklir baru.

Baca Juga
Politikus Pro-Trump Bakar Al Qur'an, Sesumbar Ingin Lenyapkan Islam di AS

Para analis memperkirakan, pembangunan itu bisa berupa reaktor air berat baru atau fasilitas perakitan hulu ledak nuklir. “Kemungkinan itu adalah reaktor — penilaian itu bersifat tidak langsung, tetapi itulah sifat dari hal-hal ini,” ujar Jeffrey Lewis dari James Martin Center for Nonproliferation Studies.

“Israel” hingga kini tetap menjalankan kebijakan ambiguitas nuklir — tidak membenarkan maupun menyangkal kepemilikan senjata nuklir, serta belum menandatangani NPT. Akibatnya, Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) tidak memiliki akses untuk melakukan inspeksi di fasilitas Dimona, kecuali pada reaktor riset Soreq.

Menurut Buletin Ilmuwan Atom, “Israel” diperkirakan memiliki sekitar 90 hulu ledak nuklir hingga tahun 2022. Ketertutupan program tersebut menimbulkan kekhawatiran baru, terutama setelah serangan udara gabungan AS–Israel pada Juni lalu yang menargetkan fasilitas nuklir Iran di Arak.

Tanpa pengawasan internasional, ekspansi fasilitas nuklir Dimona menambah kekhawatiran terhadap transparansi dan tujuan akhir dari program nuklir “Israel”, serta dampaknya bagi stabilitas kawasan Timur Tengah. []

Komentari!

Artikel Terkait

Load More Posts Loading...No more posts.
Enable Notifications OK No thanks