ORINEWS.id – Pejabat Hamas menegaskan bahwa pelucutan senjata kelompoknya sebagai bagian dari rencana perdamaian yang diusulkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk Gaza adalah hal yang mustahil dilakukan.
“Usulan serah terima senjata ditiadakan dan tak bisa dinegosiasikan,” kata seorang pejabat Hamas, mengutip AFP, Minggu, 12 Oktober 2025.
Pernyataan itu menolak klaim Trump bahwa isu perlucutan senjata Hamas akan dibahas pada fase kedua gencatan senjata di Gaza.
Menurut rencana perdamaian 20 poin yang digagas Trump, anggota Hamas yang menonaktifkan senjata mereka dijanjikan amnesti dan akan diizinkan meninggalkan wilayah Gaza.
Rencana tersebut muncul bersamaan dengan kesepakatan gencatan senjata yang mulai berlaku di Jalur Gaza, menandai berakhirnya perang dua tahun antara Israel dan Hamas. Warga Palestina mulai kembali ke kampung halaman mereka setelah pertempuran mereda.
500 Ribu Warga Kembali ke Kota Gaza
Pertahanan Sipil Gaza melaporkan bahwa lebih dari 500.000 orang telah kembali ke Kota Gaza sejak gencatan senjata diberlakukan sehari sebelumnya.
“Lebih dari setengah juta orang telah kembali ke Gaza (Kota) sejak kemarin,” kata Mahmud Bassal, juru bicara pertahanan sipil Gaza, Sabtu.
Seiring dengan kepulangan warga, tim penyelamat mulai menemukan lebih banyak korban tewas di bawah reruntuhan bangunan akibat serangan Israel sebelumnya.
Kementerian Kesehatan Gaza mengumumkan pada 11 Oktober bahwa rumah sakit di seluruh Jalur Gaza telah menerima 151 korban tewas dalam 24 jam terakhir, termasuk 116 jenazah yang ditemukan dari bawah reruntuhan, serta 72 korban luka.
Menurut data kementerian tersebut, total korban tewas sejak perang dimulai pada 7 Oktober 2023 telah mencapai 67.682 jiwa, sementara 170.033 orang lainnya mengalami luka-luka.
Bassal juga menyampaikan bahwa jumlah orang hilang di Jalur Gaza kini mencapai 9.500 jiwa setelah 735 hari perang tanpa henti di wilayah tersebut.
Sementara itu, Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) melaporkan agresi Israel telah menyebabkan pengungsian massal penduduk Gaza. Banyak keluarga, menurut UNRWA, terpaksa berpindah beberapa kali akibat pemboman yang terus terjadi di berbagai wilayah. []

































