ORINEWS.id – Polusi udara selama ini dikenal sebagai penyebab utama gangguan pernapasan dan penyakit jantung. Namun, penelitian terbaru mengungkap ancaman yang jauh lebih dalam yaitu polusi udara dapat mengganggu metabolisme tubuh dan memicu penyakit seperti resistensi insulin serta diabetes tipe 2.
Studi internasional yang dipimpin oleh Francesco Paneni dari University of Zurich dan Sanjay Rajagopalan dari Case Western Reserve University menemukan bahwa partikel halus di udara, terutama PM2.5 (berdiameter kurang dari 2,5 mikrometer), dapat menyabotase kemampuan tubuh dalam mengatur gula darah dengan menyerang lemak coklat (brown fat), jaringan lemak khusus yang berperan penting dalam pembakaran energi dan pengaturan suhu tubuh.
Menurut Paneni, polusi udara tidak hanya merusak sel-sel tubuh, tetapi juga memprogram ulang fungsi genetiknya. “Kami menemukan bahwa ekspresi gen penting dalam jaringan lemak coklat yang mengatur kemampuan tubuh untuk menghasilkan panas dan memproses lipid terganggu,” jelasnya. Akibatnya, terjadi penumpukan lemak, kerusakan jaringan, dan fibrosis di jaringan lemak tersebut.
Peneliti juga menemukan dua enzim utama yang berperan dalam proses ini, yaitu HDAC9 dan KDM2B. Kedua enzim ini memengaruhi cara DNA dikemas dan diekspresikan. Ketika aktivitasnya ditekan, fungsi lemak coklat membaik; namun jika meningkat, metabolisme semakin menurun.
Menurut techexplorist, temuan ini menjadi terobosan penting dalam memahami bagaimana polusi udara dapat menyebabkan penyakit metabolik. Selain memperkuat bukti bahwa polusi tidak hanya menyerang paru-paru, studi ini juga membuka peluang terapi baru untuk mencegah atau mengobati resistensi insulin akibat paparan udara kotor.
“Penelitian kami menunjukkan bahwa polusi udara, terutama partikel PM2.5, berperan langsung dalam perkembangan penyakit metabolik melalui gangguan pada jaringan lemak coklat,” kata Paneni. “Dengan menargetkan enzim tertentu, kita mungkin dapat memulihkan fungsi metabolik yang sehat.”
Dengan meningkatnya urbanisasi dan pencemaran udara di berbagai kota besar dunia, para ilmuwan menegaskan bahwa kebijakan udara bersih menjadi semakin mendesak. Penemuan ini memperluas pemahaman tentang dampak polusi dari sekadar ancaman bagi paru-paru menjadi pengganggu metabolisme yang memicu diabetes dan obesitas. [source:rri]































