ORINEWS.id – Dalam peringatan dua tahun Operasi Banjir Al-Aqsa, sejumlah faksi perlawanan Palestina menegaskan bahwa perjuangan bersenjata tetap menjadi satu-satunya cara yang layak untuk menghadapi pendudukan Israel. Pernyataan itu disampaikan dalam pernyataan bersama yang dirilis pada Selasa (7/10/2025).
“Tidak ada pihak yang berhak menyerahkan senjata rakyat Palestina. Senjata ini sah dan dijamin oleh semua hukum serta konvensi internasional,” demikian isi pernyataan gabungan yang dikutip dari Al Mayadeen.
Faksi-faksi tersebut menggambarkan serangan Israel ke Jalur Gaza, yang dimulai sejak 7 Oktober 2023, sebagai salah satu perang paling brutal dalam sejarah modern. Mereka menyebut agresi itu sebagai “perang genosida” terhadap rakyat Palestina, di tengah sikap diam komunitas internasional.
Menurut data yang dikutip dari Kantor Media Pemerintah Gaza, selama dua tahun terakhir pasukan Israel telah menjatuhkan lebih dari 200.000 ton bahan peledak di wilayah itu. Serangan tersebut menghancurkan hampir 90 persen infrastruktur Gaza dan memaksa lebih dari dua juta penduduk mengungsi.
Israel Dinilai Gagal Capai Tujuan
Meski mengalami kehancuran besar, faksi-faksi Palestina menyebut Israel gagal mencapai tujuan utamanya, yakni menghancurkan kelompok perlawanan dan memaksa pembebasan tawanan.
“Terlepas dari rasa sakit dan pengorbanan yang luar biasa, keteguhan rakyat kami di Jalur Gaza telah membentuk batu karang yang menghancurkan semua konspirasi musuh,” demikian isi lanjutan pernyataan tersebut.
Para pemimpin faksi menggambarkan Operasi Banjir Al-Aqsa sebagai tonggak penting dalam sejarah perjuangan Palestina. Operasi itu disebut sebagai respons alami terhadap rencana dan kebijakan yang dianggap mengancam perjuangan nasional Palestina.
Faksi-faksi juga menyebut kegagalan politik dan militer Israel sebagai bukti ketahanan perlawanan Palestina. Di tengah pengepungan dan serangan berulang, kelompok-kelompok perlawanan tetap mempertahankan struktur internal dan berhasil melakukan pertukaran tahanan yang membebaskan ratusan warga Palestina.
Senjata Rakyat Dianggap Simbol Martabat
Dalam pernyataannya, faksi-faksi kembali menegaskan bahwa senjata rakyat Palestina tidak bisa ditawar. “Pilihan perlawanan dalam segala bentuknya akan tetap menjadi satu-satunya jalan menghadapi musuh Zionis. Senjata ini akan diwariskan dari generasi ke generasi hingga pembebasan tanah dan tempat-tempat suci tercapai,” tulis mereka.
Faksi-faksi itu memuji keteguhan para pejuang Gaza yang mempertahankan persatuan meski mengalami kehancuran dan isolasi. Mereka menyebut senjata yang dipegang para pejuang sebagai simbol martabat dan tekad untuk tidak menyerah.
Seruan Solidaritas dan Dukungan
Memperingati dua tahun operasi tersebut, faksi-faksi menyerukan kepada negara-negara Arab dan Islam untuk menunjukkan solidaritas kepada rakyat Palestina dengan menggelar aksi damai di jalan-jalan utama dan alun-alun ibu kota masing-masing. Mereka juga mendesak pemerintah di kawasan itu meningkatkan tekanan politik dan ekonomi terhadap Israel serta mendukung upaya internasional untuk mengakhiri blokade di Jalur Gaza.
Terakhir, faksi-faksi itu memberikan penghormatan kepada para pemimpin dan perencana Operasi Banjir Al-Aqsa, menyebut di antaranya komandan besar Ismail Haniyeh, Yahya al-Sinwar, dan Mohammad al-Deif, beserta daftar panjang tokoh dan komandan nasional dari seluruh faksi perlawanan yang kepahlawanan dan pengorbanannya akan diabadikan dalam sejarah, ditulis dalam huruf-huruf cahaya. []


































