TERBARU

InternasionalNews

Aksi Mogok Makan Global untuk Gaza Digelar 16 September

ORINEWS.id – Jaringan “Kami Semua Gaza, Kami Semua Palestina” di al-Bireh, Tepi Barat, menyerukan aksi mogok makan global pertama untuk mendukung Gaza. Aksi ini dijadwalkan berlangsung pada Senin, 16 September 2025, dengan slogan “Rasa lapar Anda adalah rasa lapar kami.”

Penyelenggara mengatakan pada Sabtu lalu bahwa serikat pekerja dan kelompok masyarakat sipil di sejumlah kota Tepi Barat—termasuk al-Khalil, Beit Lahm, Ramallah, Nablus, Qalqilya, Jenin, hingga Tulkarm—bersiap untuk bergabung meski pengamanan diperketat.

Kampanye tersebut bertujuan menunjukkan solidaritas dengan warga Gaza sekaligus menarik perhatian internasional terhadap krisis kemanusiaan akibat serangan Israel yang masih berlangsung.

Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sebanyak 64.803 warga Palestina tewas dan sedikitnya 164.264 orang terluka sejak 7 Oktober 2023. Angka ini terus bertambah di tengah serangan udara dan darat Israel.

Para aktivis menyebut aksi mogok makan itu ditujukan untuk menekan pemimpin dunia agar menghentikan perang serta mencabut blokade Gaza. Mereka menyebutnya sebagai respons kolektif terhadap penderitaan yang meluas akibat kerusakan infrastruktur dan krisis pangan yang membuat ratusan ribu warga menghadapi kelaparan parah.

Baca Juga
PSG vs Arsenal Malam Ini: Perebutan Tiket Final Liga Champions

Jaringan tersebut juga menyerukan dukungan global dengan mengajak masyarakat berpartisipasi lewat berpuasa dan menyuarakan seruan gencatan senjata di media sosial pada 16 September.

Kematian karena Kelaparan di Gaza Lampaui 300 Orang

Krisis kemanusiaan di Gaza terus memburuk. PBB memperingatkan kelaparan semakin meluas seiring gencarnya serangan Israel terhadap wilayah yang terkepung itu.

Juru bicara Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), Jens Laerke, mengatakan kepada Al Mayadeen awal September bahwa jumlah kematian akibat kelaparan kini “jauh melampaui 300.” Ia menekankan potensi bahaya jika serangan baru diarahkan ke Kota Gaza, yang disebut sebagai titik paling parah kelaparan dengan kepadatan penduduk tinggi.

Sementara itu, Penasihat Media UNRWA Adnan Abu Hasna menyebut kondisi di Kota Gaza “melampaui bencana.” Menurutnya, angka resmi tidak mencerminkan jumlah korban sebenarnya karena tidak mencakup kematian akibat penyakit yang tak terobati maupun mereka yang dikuburkan darurat di dalam tenda pengungsian. []

Komentari!

Artikel Terkait

Load More Posts Loading...No more posts.
Enable Notifications OK No thanks