TERBARU

InternasionalNews

Kemenkes Gaza: 62 Ribu Lebih Warga Palestina Tewas, Kelaparan Jadi Senjata Perang Israel

ORINEWS.id – Kementerian Kesehatan Gaza, mengatakan bahwa pemboman Israel yang berkelanjutan dan krisis pangan yang semakin parah telah menewaskan lebih banyak warga Palestina di wilayah kantong yang terkepung tersebut. Kementerian memperingatkan bahwa kelaparan dan malnutrisi kini merenggut nyawa dengan kecepatan yang mengkhawatirkan.

Menurut kementerian, tembakan artileri Israel menghantam beberapa wilayah Gaza pada Rabu dini hari. Dua warga Palestina tewas dan beberapa lainnya luka-luka dalam serangan penembakan di sebuah rumah di lingkungan al-Daraj, Kota Gaza. Seorang anak juga tewas di dekat Kissufim, sebelah timur Deir al-Balah di Gaza tengah.

Di Khan Younis, tiga orang, termasuk seorang perempuan dan seorang anak, tewas ketika serangan udara Israel menghantam sebuah tenda yang menampung keluarga-keluarga pengungsi di wilayah Asdaa. Penembakan hebat dan tembakan dari kendaraan Israel juga terus berlanjut di Khan Younis utara.

Penghancuran Sistematis Lingkungan Gaza

Pendudukan Israel terus melanjutkan penghancuran sistematis permukiman, khususnya di Kota Gaza timur dan lingkungan al-Zaytoun di selatan. Pengeboman juga menghantam kota Jabalia dan al-Nazla di utara.

Serangan udara Israel berlanjut sepanjang malam, berkontribusi pada penghancuran rumah dan infrastruktur sipil secara luas.

Pada Senin lalu saja, 87 warga Palestina gugur akibat tembakan dan rudal Israel, termasuk enam jurnalis, yang semakin memperburuk krisis kemanusiaan.

Total Korban Perang

Sejak 7 Oktober 2023, Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan bahwa hingga 27 Agustus 2025, setidaknya 62.895 warga Palestina telah tewas dan 158.927 lainnya luka-luka. Lebih lanjut, sejak 18 Maret 2025, hari ketika “Israel” mengingkari perjanjian gencatan senjata, 11.050 orang tewas dan 46.886 lainnya luka-luka.

Baca Juga
Pasar Murah di Banda Aceh, Antisipasi Kenaikan Harga Jelang Ramadhan

Kementerian menekankan bahwa banyak korban masih terjebak di bawah reruntuhan atau di area yang tidak dapat diakses oleh petugas medis dan tim pertahanan sipil akibat pengeboman yang terus berlanjut.

Korban di Kompleks Medis Nasser Meningkat Jadi 22

Sementara itu, jumlah korban tewas akibat serangan Israel di Kompleks Medis Nasser dua hari lalu meningkat menjadi 22, karena dua orang lagi gugur akibat luka parah, Kementerian Kesehatan melaporkan.

Pada hari Senin, pendudukan Israel melakukan pembantaian di Kompleks Medis Nasser di Gaza. Fasilitas tersebut diserang dua kali, menargetkan warga sipil dan anggota pertahanan sipil yang menjadi korban serangan kedua saat mereka bergegas membantu korban serangan pertama.

Rekaman yang diambil segera setelah serangan menunjukkan asap mengepul dan puing-puing berserakan di luar rumah sakit. Warga Palestina bergegas membantu korban luka, membawa jenazah berlumuran darah dan anggota tubuh yang terputus ke dalam kompleks medis.

Menurut laporan tersebut, satu jenazah terlihat tergantung di lantai atas gedung yang menjadi sasaran, sementara seorang pria berteriak di bawah. Di antara korban luka terdapat seorang perempuan berpakaian medis dan jas putih, yang dilarikan dengan tandu dengan kaki diperban tebal dan pakaian berlumuran darah.

Angka Kematian Akibat Kelaparan dan Malnutrisi

Ketika penduduk Gaza tidak terbunuh oleh pemboman, mereka justru menjadi korban kelaparan yang direkayasa. Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa dalam 24 jam terakhir, 10 warga Palestina meninggal karena kelaparan dan malnutrisi, termasuk dua anak-anak. Dengan demikian, jumlah total kematian akibat kelaparan sejak awal perang menjadi 313, di antaranya 119 adalah anak-anak.

Baca Juga
PDIP: Tugas MKD DPR Bukan Membungkam

Rumah sakit pada Selasa juga mencatat tiga kematian orang dewasa terkait kelaparan, yang meningkatkan kekhawatiran bahwa kondisi itu semakin memburuk dengan cepat.

95 Persen Penduduk Gaza Tidak Memiliki Penghasilan

Kantor Media Pemerintah Gaza menuduh pendudukan Israel secara sistematis merekayasa kelaparan. Disebutkan bahwa lebih dari 95 persen dari 2,4 juta penduduk Gaza kini tidak memiliki penghasilan dan tidak mampu membeli makanan, meskipun persediaan terbatas di pasar.

Otoritas Israel disebut terus menutup perlintasan, menghalangi masuknya 430 bahan makanan pokok. Selama 30 hari terakhir, hanya 14 persen dari kebutuhan bantuan Gaza yang terpenuhi, sehingga terjadi defisit pasokan sebesar 86 persen. Distribusi bantuan juga terhambat, dengan laporan konvoi yang diblokir atau dijarah.

Di antara produk makanan yang dilarang masuk ke Gaza adalah telur, daging merah dan putih, ikan, keju dan produk susu, buah-buahan, sayuran, suplemen nutrisi, serta makanan bergizi untuk ibu hamil dan pasien penyakit kronis.

Pernyataan tersebut mengutuk kebijakan kelaparan pendudukan Israel dan menyatakan bahwa Israel, bersama Amerika Serikat dan pemerintah lain yang mendukung perang, bertanggung jawab penuh atas kejahatan perang dan genosida yang dilakukan terhadap rakyat Gaza.

Pernyataan itu juga mendesak negara-negara Arab dan komunitas internasional untuk segera bertindak menekan “Israel” agar membuka kembali perlintasan perbatasan dan mengizinkan masuknya bantuan kemanusiaan secara penuh guna menyelamatkan nyawa warga sipil. []

Komentari!

Artikel Terkait

Load More Posts Loading...No more posts.
Enable Notifications OK No thanks