*Oleh: dr. Zakiaturrahmi, M. Kes., AIFO-K
Daya tahan otot merupakan kemampuan suatu otot atau sekelompok otot untuk melakukan kontraksi berulang atau mempertahankan kontraksi statik dalam jangka waktu tertentu tanpa mengalami kelelahan. Daya tahan otot salah satu komponen penting dari kebugaran jasmani yang sangat berpengaruh terhadap performa fisik seseorang dalam aktivitas sehari-hari maupun olahraga. Menurut Kenney et al. dalam Physiology of Sport and Exercise, daya tahan otot dapat ditingkatkan melalui latihan sistematis, dan merupakan indikator efisiensi sistem neuromuskular tubuh.
Secara fisiologis, kelelahan otot terbagi menjadi dua jenis utama: kelelahan perifer (peripheral fatigue) dan kelelahan sentral (central fatigue). Peripheral fatigue berkaitan dengan metabolisme lokal otot, seperti penumpukan asam laktat atau penurunan ion kalsium, sedangkan central fatigue terjadi karena berkurangnya sinyal saraf dari otak ke otot. Penelitian Tornero-Aguilera et al menjelaskan bahwa central fatigue memegang peran besar dalam menurunnya performa fisik karena memengaruhi kontrol motorik secara langsung.
Kelelahan sentral berhubungan dengan penurunan aktivitas sistem saraf pusat (SNP), khususnya pada pengiriman sinyal motorik dari korteks motorik ke otot. Penurunan aktivasi ini dapat dipengaruhi oleh perubahan kadar neurotransmiter seperti serotonin dan dopamin, serta akumulasi metabolit yang merangsang aferen tipe III dan IV sehingga menghambat aktivasi motorik.
Kelelahan sentral juga dipengaruhi oleh faktor psikologis seperti motivasi, persepsi terhadap usaha (RPE), serta keadaan mental saat latihan berlangsung. Studi neurofisiologis menunjukkan bahwa penurunan aktivitas korteks motorik dan perubahan dalam komunikasi antarneuron berdampak langsung pada penurunan kekuatan kontraksi meskipun otot masih mampu berkontraksi.
Kelelahan perifer disebabkan oleh gangguan pada tingkat otot itu sendiri. Akumulasi ion H⁺, fosfat anorganik, serta gangguan homeostasis kalsium dalam retikulum sarkoplasma menjadi faktor utama. Hal ini menyebabkan penurunan sensitivitas troponin terhadap Ca²⁺, yang menghambat kontraksi otot. Penurunan ATP juga turut berkontribusi terhadap melemahnya kerja cross-bridge antara aktin dan miosin, sehingga output gaya otot menurun secara progresif selama aktivitas.
Selain itu, kelelahan perifer juga dapat dikaitkan dengan produksi spesies oksigen reaktif (ROS) yang meningkat selama kontraksi intensif. ROS dapat merusak protein kontraktil dan membran sel otot, yang pada akhirnya memperburuk performa otot. Adaptasi antioksidan melalui latihan teratur dapat menurunkan akumulasi ROS dan meningkatkan ketahanan otot terhadap kelelahan.
Latihan daya tahan otot melibatkan peningkatan beban kerja secara bertahap untuk meningkatkan kemampuan tubuh dalam menahan aktivitas tanpa penurunan performa yang drastis. Adaptasi yang terjadi akibat latihan daya tahan otot meliputi peningkatan jumlah dan fungsi mitokondria, kapilarisasi otot, dan efisiensi penggunaan substrat energi. Adaptasi tersebut memungkinkan tubuh untuk menggunakan oksigen secara lebih efisien, mengurangi akumulasi laktat, serta mempercepat proses pemulihan setelah aktivitas.
Daya tahan otot tidak hanya penting dalam olahraga ketahanan seperti lari jarak jauh atau bersepeda, tetapi juga relevan untuk kegiatan fungsional sehari-hari seperti berjalan, mengangkat barang, dan menjaga postur tubuh dalam jangka waktu lama. Oleh karena itu, peningkatan daya tahan otot sangat berkontribusi terhadap kualitas hidup, terutama bagi lansia dan pasien rehabilitasi.
Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa latihan daya tahan otot dapat meningkatkan sensitivitas insulin, menurunkan tekanan darah, serta memperbaiki profil lipid, menjadikannya salah satu komponen penting dalam program pencegahan penyakit metabolik kronis. Intervensi berbasis aktivitas fisik berkelanjutan yang menargetkan daya tahan otot telah terbukti menurunkan risiko kardiovaskular dan meningkatkan kapasitas aerobik secara keseluruhan.
Daya tahan otot memiliki kontribusi penting terhadap kesehatan metabolik, terutama dalam pengaturan glukosa darah, profil lipid, dan sensitivitas insulin. Latihan yang meningkatkan daya tahan otot terbukti dapat menurunkan kadar glukosa darah puasa dan meningkatkan toleransi glukosa, yang sangat penting bagi individu dengan risiko atau diagnosis diabetes tipe 2.
Peningkatan daya tahan otot juga dikaitkan dengan penurunan lemak tubuh dan perbaikan komposisi tubuh secara keseluruhan. Adaptasi fisiologis yang terjadi, seperti peningkatan jumlah mitokondria dan enzim oksidatif dalam otot, berkontribusi pada efisiensi metabolisme energi. Dengan demikian, daya tahan otot yang baik dapat menjadi indikator penting dalam pencegahan dan pengelolaan sindrom metabolik serta penyakit kardiometabolik lainnya.
Latihan daya tahan otot juga dapat menurunkan resistensi insulin melalui mekanisme peningkatan transpor GLUT-4 ke membran sel otot, yang mempercepat pengambilan glukosa oleh otot selama dan setelah latihan. Proses ini sangat efektif dalam mengontrol kadar glukosa darah tanpa memerlukan peningkatan dosis insulin endogen atau eksogen, terutama pada pasien diabetes tipe 2.
Daya tahan otot yang tinggi turut membantu mengurangi peradangan kronis tingkat rendah yang menjadi salah satu penyebab utama resistensi insulin dan aterosklerosis. Latihan berulang dengan intensitas sedang dapat menurunkan kadar sitokin proinflamasi seperti TNF-α dan IL-6 serta meningkatkan sitokin anti-inflamasi seperti IL-10, yang memberikan perlindungan jangka panjang terhadap gangguan metabolik.
Daya tahan otot yang baik juga berhubungan dengan penurunan risiko gangguan neurodegeneratif seperti demensia dan Alzheimer. Beberapa studi intervensi menunjukkan bahwa program latihan resistensi dengan fokus pada daya tahan otot mampu memperbaiki skor kognitif, meningkatkan konsentrasi, dan memperlambat penurunan fungsi eksekutif pada lansia. Oleh karena itu, daya tahan otot tidak hanya penting dari sisi fungsional motorik, tetapi juga berdampak luas terhadap kesehatan otak dan fungsi mental.
Penelitian terbaru menunjukkan adanya hubungan antara kapasitas fisik, khususnya daya tahan otot, dengan fungsi kognitif individu. Aktivitas fisik yang meningkatkan daya tahan otot ternyata turut mendukung aliran darah ke otak, meningkatkan neuroplastisitas, dan merangsang pelepasan faktor neurotropik seperti BDNF (Brain-Derived Neurotrophic Factor), yang penting untuk memori dan pembelajaran. Selain peningkatan faktor neuroplastik, aktivitas yang memperkuat daya tahan otot juga mampu mengurangi stres oksidatif dan peradangan sistemik, dua hal yang berperan dalam penurunan fungsi kognitif. Latihan daya tahan otot secara konsisten membantu menurunkan kadar kortisol dan meningkatkan regulasi emosi, yang secara tidak langsung juga berkontribusi terhadap performa kognitif yang lebih stabil.
Temuan-temuan ini mendukung pentingnya mengintegrasikan komponen latihan daya tahan otot ke dalam program kebugaran lansia dan pasien dengan risiko penurunan fungsi kognitif. Hal ini tidak hanya memberikan manfaat fisik, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup dari sisi mental, emosional, dan sosial.
Pemeriksaan daya tahan otot penting dilakukan untuk menilai kapasitas fungsional dan kesiapan individu dalam menjalani aktivitas fisik maupun program latihan. Dalam bidang olahraga, pengukuran ini berguna untuk menentukan tingkat kebugaran otot dan merancang strategi latihan yang sesuai untuk mencegah cedera akibat overtraining.
Pemeriksaan secara berkala juga membantu pelatih dan fisiolog olahraga dalam memonitor respons tubuh terhadap stimulus latihan. Dalam konteks rehabilitasi, pemeriksaan daya tahan otot membantu tenaga medis dalam mengevaluasi derajat disfungsi otot serta memantau progres pemulihan pasien. Dengan menggunakan data objektif dari hasil evaluasi, program terapi dapat disesuaikan agar lebih efektif dan aman, terutama pada pasien dengan kondisi kronis atau pasca-operasi.
Selain itu, dalam dunia medis, pemeriksaan daya tahan otot berperan penting dalam mendeteksi dini kelemahan otot yang berkaitan dengan penyakit degeneratif seperti sarcopenia dan multiple sclerosis. Intervensi latihan dapat diberikan lebih awal berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut guna memperlambat progresivitas penyakit dan mempertahankan fungsi independen pasien.
Metode pemeriksaan daya tahan otot melibatkan berbagai teknik, mulai dari tes isometrik, push-up test, hingga teknologi seperti EMG dan tensiomyography (TMG). Penelitian Liang Ma et al. mengembangkan model matematika “simple dynamic muscle fatigue” yang mempertimbangkan beban kerja dan durasi untuk memprediksi munculnya kelelahan otot secara real-time, dan model ini telah divalidasi secara eksperimental.
Pemeriksaan daya tahan otot memiliki nilai diagnostik dan prediktif yang tinggi. Berbagai metode pengukuran baik konvensional maupun berbasis teknologi canggih seperti sEMG, TMG, dan NIRS, dapat digunakan untuk mengevaluasi kondisi otot secara akurat. Hasil pemeriksaan ini dapat dimanfaatkan dalam menyusun program latihan yang terukur serta sebagai acuan dalam terapi rehabilitasi yang aman dan efisien.
Penilaian daya tahan otot juga digunakan sebagai indikator keberhasilan program rehabilitasi, khususnya dalam fisioterapi muskuloskeletal dan neurologis. Melalui pengukuran berkala, efektivitas pendekatan rehabilitasi dapat dievaluasi dan diadaptasi untuk mencapai hasil klinis yang lebih optimal. Oleh karena itu, pemeriksaan daya tahan otot menjadi aspek penting dalam dunia olahraga, kebugaran, dan rehabilitasi. Dengan pendekatan berbasis bukti dan dukungan teknologi modern, pemeriksaan ini dapat memberikan gambaran menyeluruh mengenai status neuromuskular seseorang dan digunakan sebagai dasar dalam perencanaan pelatihan atau program pemulihan. Dengan demikian, integrasi ilmu fisiologi olahraga dalam praktik latihan dan rehabilitasi dapat meningkatkan kualitas hidup individu secara menyeluruh.
Penulis adalah Staf Pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (USK) dan S2 Ilmu Kedokteran Dasar Universitas Padjadjaran (Unpad)





























