ORINEWS.id – Gerakan perlawanan Hamas pada Rabu mengecam pelanggaran yang dilakukan Israel terhadap perjanjian gencatan senjata di Jalur Gaza, setelah laporan muncul mengenai serangan di beberapa wilayah yang menewaskan warga sipil.
Mengutip Al Mayadeen, Kamis (16/10/2025), Juru bicara Hamas, Hazem Qassem, mengatakan bahwa pasukan pendudukan Israel telah “melakukan pelanggaran yang disengaja” terhadap kesepakatan gencatan senjata yang mulai berlaku lima hari lalu.
“Pendudukan Israel terus terang melanggar perjanjian gencatan senjata di Gaza,” kata Qassem, seraya menyoroti jatuhnya korban di al-Shujaiya, di utara Kota Gaza, dan Rafah, di bagian selatan.
Ia menambahkan bahwa sementara pasukan Israel melanjutkan serangan, sayap militer Hamas, Brigade al-Qassam, tetap mematuhi ketentuan perjanjian, termasuk penyerahan jenazah tentara Israel yang tewas di Gaza.
Serangan di Tengah Gencatan Senjata
Menurut laporan dari lapangan, dua warga Palestina tewas akibat penembakan Israel di lingkungan al-Shujaiya, sebelah timur Kota Gaza. Koresponden Al Mayadeen melaporkan bahwa pasukan Israel juga menahan sedikitnya 15 warga di wilayah timur laut Rafah, Jalur Gaza bagian selatan.
Sumber setempat mengatakan kendaraan militer Israel menembaki kawasan barat laut Rafah pada Rabu pagi, menambah ketegangan di wilayah yang seharusnya berada dalam kondisi tenang setelah perjanjian gencatan senjata disahkan.
Hanya sehari sebelumnya, pasukan Israel menewaskan sedikitnya tujuh warga Palestina dan melukai beberapa lainnya, meskipun pemerintah Israel telah meratifikasi perjanjian penghentian pertempuran yang diumumkan Kamis malam lalu.
Menurut laporan Otoritas Penyiaran Israel (KAN), perjanjian itu mencakup “penghentian total pertempuran di seluruh Jalur Gaza.”
Rafah Belum Dibuka
Sementara itu, badan keamanan Israel menyatakan bahwa Penyeberangan Rafah tetap ditutup pada Rabu, meskipun sebelumnya beredar laporan bahwa perlintasan tersebut akan dibuka kembali.
Pihak Israel menyebut, persiapan sedang dilakukan untuk memungkinkan keluar-masuk warga Palestina saja, sementara aliran bantuan kemanusiaan masih berlanjut melalui Penyeberangan Karem Abu Salem yang dikuasai Israel. Sedikitnya 600 truk dilaporkan telah memasuki Gaza melalui titik-titik inspeksi tersebut.
PA Nyatakan Siap Ambil Alih Rafah
Dalam perkembangan lain, Otoritas Palestina (PA) mengumumkan kesiapannya untuk mengambil alih pengelolaan penuh perlintasan Rafah antara Mesir dan Jalur Gaza.
Mohammad Shtayyeh, utusan khusus Presiden PA Mahmoud Abbas, mengatakan bahwa pemerintahnya telah memberi tahu semua pihak terkait mengenai kesiapan mereka.
“Kami sekarang siap untuk melanjutkan operasi, dan kami telah memberi tahu semua pihak terkait tentang kesediaan kami untuk mengambil alih perlintasan Rafah,” ujar Shtayyeh.
Implementasi Perjanjian
Sebagai bagian dari tahap pertama kesepakatan gencatan senjata, faksi-faksi perlawanan Palestina di Gaza menyerahkan 20 tawanan Israel yang masih hidup kepada Komite Palang Merah Internasional pada Senin pagi.
Sebagai balasan, Israel membebaskan 2.000 tahanan Palestina pada hari berikutnya. Hamas juga mengonfirmasi telah menyerahkan jenazah empat tawanan Israel, dan empat lainnya diperkirakan akan dipulangkan dalam waktu dekat, menurut sumber diplomatik. []


































