TERBARU

BisnisEkonomi

Harga Bitcoin Anjlok ke Level Terendah Rp1,7 Miliar, Imbas Perang Tarif AS-China

ORINEWS.id – Harga Bitcoin (BTC) anjlok tajam hingga menyentuh level terendah sejak Juni 2025. Kejatuhan ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan penambahan tarif baru sebesar 100 persen terhadap barang-barang asal China.

Mengutip cnbcindonesia, Minggu (12/10), pada perdagangan intraday Sabtu, 11 Oktober 2025, harga Bitcoin sempat jatuh ke level US$104.782,88 atau setara dengan Rp1,73 miliar per koin. Penurunan ini membuat investor kehilangan sekitar Rp158,96 juta per koin dari penutupan perdagangan sehari sebelumnya di level US$114.390,64 atau setara dengan Rp1,89 miliar per koin.

Hingga pukul 11.42 WIB, harga Bitcoin masih terkoreksi 2 persen di posisi US$112.102,97 per koin.

Selama sepekan terakhir, nilai Bitcoin turun 11,91 persen. Volume perdagangan dalam 24 jam terakhir mencapai US$94 miliar atau sekitar 35,47 persen dari total volume pasar kripto global. Dalam tujuh hari terakhir, Bitcoin bergerak dalam kisaran US$103.893,28 hingga US$126.185,99.

Baca Juga
Kembali Digempur AS-Inggris, Yaman Tetap Fokus Pro Palestina dan Lawan Israel
DONASI TAHAP KEDUA

Dampak Perang Dagang AS–China

Anjloknya harga Bitcoin terjadi setelah Trump mengumumkan rencana menaikkan tarif impor China hingga 100 persen, di atas tarif 30 persen yang sudah berlaku, mulai 1 November atau lebih cepat. Kebijakan ini menjadi sinyal eskalasi besar dalam perang dagang setelah sebelumnya kedua negara menjalani masa gencatan.

“Amerika Serikat akan mengenakan Tarif 100% untuk China, di atas Tarif apa pun yang saat ini mereka bayarkan,” tulis Trump dalam unggahan di Truth Social, Jumat sore. “Juga pada 1 November, kami akan memberlakukan Kontrol Ekspor untuk semua perangkat lunak penting.”

Langkah Trump ini disebut sebagai respons atas keputusan Beijing memperketat kontrol ekspor logam tanah jarang — bahan penting untuk produksi berbagai perangkat elektronik.

China diketahui mendominasi pasokan global logam tanah jarang dan beberapa bahan utama lainnya yang digunakan dalam pembuatan mobil, ponsel pintar, serta berbagai produk industri lainnya.

Sebelumnya, ketika Beijing memperketat ekspor setelah tarif AS naik awal tahun ini, sejumlah perusahaan Amerika yang bergantung pada bahan-bahan tersebut menyampaikan protes keras. Produsen mobil Ford bahkan sempat menghentikan sementara produksinya.

Baca Juga
OTT KPK di Kalimantan Selatan, Orang Kepercayaan Gubernur Sahbirin Noor Ditangkap

Selain memperketat kontrol ekspor, pemerintah China juga dilaporkan membuka penyelidikan monopoli terhadap perusahaan teknologi AS, Qualcomm, yang berpotensi menghambat proses akuisisi perusahaan pembuat cip lain.

Komentari!

Artikel Terkait

Load More Posts Loading...No more posts.
Enable Notifications OK No thanks