ORINEWS.id – Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif, menyatakan negaranya siap menyediakan seluruh kemampuan militer, termasuk penangkal nuklir, bagi Arab Saudi di bawah perjanjian pertahanan bersama strategis yang baru ditandatangani. Asif menegaskan bahwa pakta tersebut “murni bersifat defensif.”
Perjanjian itu diteken Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif pada Rabu lalu di Riyadh. Dokumen tersebut merinci kerangka kerja untuk peningkatan kerja sama pertahanan dan pencegahan bersama.
“Asumsinya sederhana, jika salah satu negara diserang, kami akan merespons bersama,” kata Asif dalam wawancara dengan Geo News, Kamis, 18 September 2025.
Ia menyebut perjanjian itu sebagai pengaturan “payung” yang bertujuan menjaga perdamaian di kawasan.
Sebuah pernyataan bersama kedua negara menekankan bahwa setiap serangan terhadap salah satu pihak akan dianggap sebagai agresi terhadap keduanya. Kerja sama ini, menurut pernyataan itu, ditujukan untuk memperkuat pencegahan bersama.
Payung Nuklir Pakistan
Menjawab pertanyaan apakah Arab Saudi akan turut merasakan manfaat dari kemampuan nuklir Pakistan, Asif menjawab, “Apa yang kami miliki, kemampuan kami, pasti akan tersedia di bawah pakta ini.”
Ia menegaskan kembali bahwa Pakistan adalah kekuatan nuklir yang bertanggung jawab sejak uji coba pertamanya pada 1998.
Asif juga membantah bahwa Washington diajak berkonsultasi terkait pakta tersebut.
“Tidak ada alasan meminta persetujuan pihak ketiga,” ujarnya. “Ini bukan perjanjian hegemonik, melainkan pakta pertahanan. AS sendiri punya banyak perjanjian semacam ini dengan negara lain.”
Meski begitu, ia menyebut masih terlalu dini membicarakan kemungkinan keterlibatan negara lain. Namun ia menekankan “pintu Pakistan terbuka” sambil menyinggung pergeseran keseimbangan kekuatan global ke arah Tiongkok.
Respons Saudi
Seorang pejabat Saudi yang dikutip Financial Times menyebut kesepakatan ini merupakan hasil diskusi lebih dari satu tahun dan “berakar pada percakapan dua hingga tiga tahun terakhir.”
Menteri Pertahanan Saudi, Khalid bin Salman, dalam unggahan di X menyebut perjanjian itu sebagai bentuk “satu front melawan agresor mana pun… selalu dan selamanya.”
Pakta ini diteken di tengah kritik Riyadh terhadap agresi Israel di Gaza. Putra Mahkota bin Salman menuding Israel melakukan genosida dan menegaskan normalisasi hubungan tidak akan terjadi tanpa penghentian perang dan adanya jalur jelas menuju negara Palestina.
Meski AS tetap menjadi mitra militer utama negara-negara Teluk, analis menilai serangan Israel baru-baru ini di Doha dapat mempercepat upaya Arab mendiversifikasi kerja sama pertahanan, termasuk dengan Pakistan.
Israel sendiri merupakan satu-satunya entitas bersenjata nuklir di Timur Tengah, meski hingga kini tidak pernah mengakui secara resmi program senjatanya. []


































