ORINEWS.id – Lebih dari 400 artis dan label musik internasional, termasuk Massive Attack, Kneecap, Primal Scream, dan Rina Sawayama, mendukung kampanye menarik karya mereka dari platform streaming di wilayah pendudukan Palestina. Aksi ini sebagai bentuk protes atas genosida yang terus berlangsung di Gaza.
Inisiatif bertajuk No Music For Genocide mendorong para artis memblokir akses secara geografis atau sepenuhnya menghapus katalog musik mereka dari Israel. Penyelenggara menyebut boikot budaya ini sebagai “permulaan” dari gerakan yang lebih luas untuk meminta pertanggungjawaban Israel atas kejahatan terhadap kemanusiaan.
Selain nama besar itu, musisi lain seperti Fontaines D.C., MIKE, Faye Webster, King Krule, Japanese Breakfast, Arca, serta label Bayonet Records dan PAN juga ikut serta. Kampanye ini menekan distributor global seperti Sony, Universal Music Group, dan Warner Music untuk bersikap serupa—mengingat perusahaan-perusahaan tersebut sebelumnya membatasi katalog di Rusia setelah invasi Ukraina.
“Budaya tidak dapat menghentikan bom sendirian, tetapi dapat membantu menolak represi politik, mengalihkan opini publik ke arah keadilan, dan menolak pencucian seni serta normalisasi perusahaan atau negara mana pun yang melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan,” tulis kelompok itu di laman resminya.
Disejajarkan dengan boikot apartheid Afrika Selatan
Koalisi ini membandingkan aksinya dengan boikot budaya terhadap rezim apartheid Afrika Selatan. Mereka juga menyinggung aksi solidaritas lain, seperti janji Film Workers for Palestine, larangan Spanyol terhadap kapal menuju Israel, serta penolakan buruh pelabuhan Maroko memuat senjata ke Tel Aviv.
Aktivis menyebut boikot sebagai “tindakan nyata” untuk memperkuat seruan internasional agar mengisolasi dan mendelegitimasi kebijakan Israel.
“Semakin banyak dari kita, semakin kuat kita nantinya,” kata pernyataan tersebut.
PBB sebut Israel lakukan genosida
Boikot ini muncul setelah penyelidikan Dewan HAM PBB menyimpulkan bahwa Israel telah melakukan empat tindakan genosida sejak 7 Oktober 2023. Tindakan itu meliputi pembunuhan massal, menimbulkan kerugian fisik dan mental serius, menciptakan kondisi hidup yang ditujukan untuk menghancurkan warga Palestina, serta upaya mencegah kelahiran.
Dalam laporan setebal 72 halaman, Komisi Penyelidikan Internasional Independen menyebut Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Presiden Isaac Herzog, dan mantan Menteri Keamanan Yoav Gallant sebagai penghasut genosida. Israel menepis temuan itu dengan menyebutnya “salah dan menyimpang.”
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, hampir 65 ribu warga Palestina telah terbunuh sejak serangan dimulai, mayoritas perempuan dan anak-anak.
#GameOverIsrael di sepak bola
Gelombang boikot juga merambah olahraga. Sejumlah organisasi advokasi meluncurkan kampanye #GameOverIsrael lewat papan reklame di Times Square, New York, menyerukan federasi sepak bola Eropa memboikot tim Israel dan melarang pemain Israel di kompetisi domestik.
“Selagi Amerika Serikat bersiap menjadi tuan rumah Piala Dunia FIFA 2026, rakyat Amerika tidak boleh membiarkan stadion-stadion kami menjadi platform untuk menutupi kejahatan perang,” ujar Abed Ayoub, Direktur Eksekutif Nasional Komite Antidiskriminasi (ADC).
New York dijadwalkan menjadi tuan rumah delapan pertandingan, termasuk final Piala Dunia 2026, yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. []


































