TERBARU

InternasionalNews

Ekonomi Israel Terpuruk di Tengah Perang Gaza, Terendah dalam Beberapa Dekade

ORINEWS.id – Bloomberg pada Jumat, 19 September 2025, melaporkan perekonomian Israel berada dalam tekanan besar menyusul perang Gaza yang tidak menunjukkan tanda-tanda mereda. Mobilisasi militer besar-besaran, isolasi internasional, dan kekhawatiran investor membuat laju ekonomi negara itu melambat ke titik terendah dalam beberapa dekade.

Selama hampir dua tahun, panggilan militer berulang membuat perusahaan kekurangan tenaga kerja. Nimrod Vax, salah satu pendiri perusahaan intelijen data BigID, mengatakan pada suatu saat 20 persen dari 600 karyawan perusahaannya—seperempatnya berbasis di Israel—sedang bertugas di IOF (Israel Occupation Forces).

“Ada dampak nyata pada proyek jangka panjang kami dan pada penelitian dan pengembangan,” kata Vax. “Bakat-bakat kunci sedang pergi.”

Mobilisasi hingga 130 ribu anggota cadangan, sekitar 3 persen dari angkatan kerja, menghantam usaha kecil dan menengah. Ron Tomer, presiden Asosiasi Produsen Israel, menilai situasi itu mematikan.

DONASI TAHAP KEDUA
Baca Juga
Sadis! Pasukan PA Tembak Kepala Jurnalis Perempuan Palestina di Tepi Barat

“Jika Anda seorang pengusaha kecil, beberapa kali absen dapat langsung menutup usaha Anda,” ujarnya.

Gaza Mengalami Keruntuhan Lebih Parah

Sementara itu, keruntuhan yang jauh lebih besar terjadi di Gaza dan Tepi Barat. Bank Dunia menyebut ekonomi Palestina mengalami “kontraksi terdalam dalam lebih dari satu generasi” akibat pemboman, pengepungan, dan pengungsian massal.

Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan lebih dari 65 ribu warga Palestina tewas sejak Oktober 2023. Kehancuran rumah, rumah sakit, sekolah, dan lahan pertanian membuat kehidupan ekonomi normal tak mungkin berjalan.

Isolasi Internasional

Perang juga mengisolasi Israel di panggung internasional. Uni Eropa mempertimbangkan penangguhan perlakuan dagang preferensial, sementara Prancis dan Arab Saudi mendorong pengakuan lebih luas terhadap negara Palestina. Eksportir Israel, terutama di sektor teknologi dan pertahanan, mulai melaporkan klien-klien Eropa enggan menampilkan hubungan mereka secara terbuka.

Tekanan Pasar dan Investor

Tekanan itu tercermin di pasar modal. Saham Tel Aviv sempat merosot setelah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa Israel harus lebih mandiri. Pernyataan itu kemudian ia tarik, tetapi investor tetap khawatir terhadap risiko ekonomi dan diplomatik.

Baca Juga
Viral di X! Komjen Rudy Heriyanto Disebut Calon Kapolri Gantikan Listyo Sigit, Ini Profilnya

Beban ekonomi juga dirasakan masyarakat. Yaniv Ptaya, praktisi pengobatan Tiongkok, direkrut tiga kali dan lebih dari enam bulan tidak bekerja hingga menutup salah satu kliniknya. Sementara Or Epstein, salah satu pendiri Wonder Robotics, harus membagi waktu antara dinas militer malam hari dengan pekerjaan sipil.

“Saya akan melapor,” katanya, “karena rasa tanggung jawab, tetapi juga karena saya telah belajar menggabungkan keduanya.”

Defisit anggaran Israel kini mencapai 7 persen dibandingkan proyeksi sebelum perang, level yang sebanding dengan krisis keuangan 2008. Sementara itu, di Gaza, warga menghadapi kematian massal, kelaparan, dan kehancuran ekonomi.

Banyak pengamat menyebut keruntuhan ekonomi Israel sebagai luka akibat ulah sendiri, konsekuensi langsung dari perang yang oleh banyak pihak digolongkan sebagai genosida. []

Komentari!

Artikel Terkait

Load More Posts Loading...No more posts.
Enable Notifications OK No thanks