ORINEWS.id – Tiongkok dan Amerika Serikat mencapai kesepakatan kerangka kerja dasar untuk mengatasi sengketa seputar aplikasi berbagi video TikTok. Kesepakatan ini diumumkan Kementerian Perdagangan Tiongkok pada Selasa, 16 September 2025, setelah serangkaian pertemuan tingkat tinggi di Madrid.
Pertemuan bilateral pada 14–15 September itu mempertemukan Wakil Perdana Menteri Tiongkok He Lifeng dengan Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Perwakilan Dagang Jamison Greer. Kementerian menggambarkan diskusi sebagai “terbuka, mendalam, dan konstruktif,” sejalan dengan konsensus yang sebelumnya sudah dibangun di level pemimpin kedua negara.
Dalam pernyataannya, Beijing menyebut kedua belah pihak menyepakati kerangka kerja yang mencakup pengurangan hambatan investasi, promosi kolaborasi ekonomi, serta mekanisme khusus untuk menyelesaikan isu TikTok. Konsultasi lanjutan akan difokuskan pada finalisasi teks perjanjian sebelum diajukan ke prosedur domestik masing-masing negara.
Tuntutan Trump dan Isu Keamanan Nasional
Persoalan TikTok menjadi salah satu titik panas dalam hubungan Washington–Beijing selama beberapa tahun terakhir. Presiden AS Donald Trump berulang kali menekan ByteDance, induk TikTok di Tiongkok, agar melepaskan operasi aplikasinya di Amerika Serikat.
Trump menuding aplikasi itu berpotensi dimanfaatkan otoritas Tiongkok untuk memata-matai atau memengaruhi pengguna Amerika. Washington bahkan sempat menuntut agar pengalihan kepemilikan TikTok juga mencakup kendali atas algoritma inti aplikasi tersebut.
Meski Trump sempat menetapkan sejumlah tenggat waktu disertai ancaman pelarangan, negosiasi berlarut-larut lantaran popularitas TikTok di kalangan anak muda Amerika serta pertimbangan politik domestik.
Terhubung ke Perdagangan Lebih Luas
Kesepakatan awal terkait TikTok ini tidak bisa dilepaskan dari dinamika perdagangan AS–Tiongkok yang fluktuatif. Selama perang dagang, kedua negara sempat saling mengenakan tarif tinggi—145 persen untuk produk Tiongkok dan 125 persen untuk produk Amerika.
Pada Mei lalu, Washington dan Beijing sepakat memangkas sebagian tarif, meski beberapa bea masuk tetap berlaku, termasuk “tarif fentanil” sebesar 20 persen yang diterapkan AS.
Dengan tercapainya konsensus baru, kedua negara berharap sengketa TikTok bisa segera ditutup sekaligus membuka jalan bagi kerja sama ekonomi yang lebih stabil. []


































